Kemenlu Rusia Kecewa dengan Sanksi Terbaru dari AS

Sanksi itu diberikan kepada delapan perusahaan Rusia.

Sanksi itu diberikan kepada delapan perusahaan Rusia.

Mikhail Pochuyev/TASS
Kementerian Luar Negeri Rusia mengaku kecewa dengan keputusan AS memberlakukan sanksi terhadap delapan perusahaan Rusia. Menurut juru bicaranya, Maria Zarakhova, langkah AS tersebut “tidak sesuai dengan pernyataan Washington terkait prioritas mereka melawan para teroris dan markas mereka di Suriah”

Kementerian Luar Negeri Rusia mengaku kecewa dengan keputusan AS memberlakukan sanksi terhadap delapan perusahaan Rusia, demikian diungkapkan juru bicaranya Maria Zakharova melalui halaman Facebook-nya.

“Keputusan pemerintah AS untuk memberlakukan sanksi terhadap beberapa perusahaan Rusia, termasuk yang berada di industri konstruksi pesawat dan spesialis pelatihan aviasi, menghasilkan kekecewaan,” ujarnya seperti yang dikutip TASS pada hari Minggu (26/3).

“Sanksi terbaru ini tentu saja tidak menciptakan masalah serius yang baru untuk kami, tapi AS tidak menjelaskan alasan pemberiannya sama sekali. Mereka hanya mengumumkan bahwa mereka mengacu pada undang-undang yang melarang mereka bekerja sama dengan Iran dan Suriah,” ujar sang diplomat.

Menurut Zakharova, Kemenlu Rusia menganggap langkah AS tersebut “tidak sesuai dengan pernyataan Washington terkait prioritas mereka melawan para teroris dan markas mereka di Suriah”.

Pemerintah AS, menurutnya, “lebih percaya pada mereka yang berkepentingan untuk menghancurkan kerja sama Rusia-AS secara bertahap”.

Pada hari Sabtu (25/3), Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa negaranya telah menjatuhkan sanksi perdagangan terhadap delapan perusahaan Rusia terkait Undang-undang Nonproliferasi Iran, Korea Utara, dan Suriah (INKSNA).

Sanksi itu diberikan kepada Pabrik Perbaikan Pesawat ke-150 milik Russian Helicopters, Aviaexport, Bazalt, Biro Desain Pembangunan Mesin Kolomna (KBM), Rosoboronexport (ROE), Akademi Perguruan Tinggi Aviasi Sipil Ulyanovsk (UVAUGA), Pusat Pelatihan Aviasi Sipil Ural (UUTsCA), dan Akademi Zhukovskiy dan Gagarin (Z&G).

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.