Mantan Anggota Parlemen Rusia Tewas Ditembak di Ukraina

Tempat kejadian perkara pembunuhan Denis Voronenkov.

Tempat kejadian perkara pembunuhan Denis Voronenkov.

RIA Novosti
Denis Voronenkov, mantan anggota Majelis Rendah Parlemen Rusia (Duma) pada 2011 hingga 2016, tewas dalam sebuah baku tembak di Kiev. Sang pembunuh kemudian meninggal di rumah sakit.

Mantan anggota Majelis Rendah Parlemen Rusia (Duma), Denis Voronenkov, tewas dalam sebuah baku tembak di Kiev, Ukraina, pada Kamis (23/3), demikian diungkap kepala kepolisian kota tersebut, Andrey Krishchenko.

“Ada sebuah baku tembak di depan pintu masuk Hotel Premier-Palace sekitar 40 menit yang lalu. Satu orang terbunuh dan dua orang terluka. Saya bisa mengkonfirmasi bahwa yang terbunuh adalah mantan anggota Duma, Denis Voronenkov,” ujar Krishchenko seperti yang dikutip TASS. Satu peluru ditemukan di wajah Voronenkov, satu di leher, dan dua di perut.

Denis Voronenkov. Sumber: Sputnik

Sang pembunuh Voronenkov kemudian meninggal di rumah sakit, seperti diberitakanSputnik yang mengutip saluran televisi Ukraina Hromadske.TV 

"Dokter Nikolai Dyomin mengatakan bahwa ia sudah meninggal," kata saluran televisi tersebut.

Menurut Jaksa Agung Ukraina Yuri Lutsenko, si penembak mencederai pengawal Voronenkov, yang kemudian turut membalasnya dengan tembakan. Pengawal Voronenkov terluka di dekat jantungnya namun sudah sadar.

Sebelumnya, Lutsenko mengatakan bahwa sang pembunuh berada dalam kondisi kritis karena terluka di perut dan kepala. 

Jenazah Voronenkov. Sumber: International Business Times

Voronenkov, mantan anggota Duma dari Partai Komunis, pindah ke Ukraina pada Oktober 2016 untuk menanggalkan statusnya sebagai warga negara Rusia. Ia menjadi warga Ukraina dua bulan kemudian.

Diputuskan bersalah karena diduga mendalangi perampasan properti illegal senilai 127 juta rubel (Rp 29,3 miliar), Voronenkov masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) Rusia sejak 15 Februari 2017, dan DPO internasional sejak 27 Februari 2017.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.