Lima Jam Operasi Ranjau, Pasukan Rusia Temukan 120 Alat Peledak di Palmyra

Segala hal yang dianggap dapat menghancurkan kota langsung dibersihkan.

Segala hal yang dianggap dapat menghancurkan kota langsung dibersihkan.

mil.ru
Selain alat peledak, pasukan Rusia juga menemukan dua depot amunisi di Palmyra.

Pasukan pembersih ranjau Rusia menemukan lebih dari 120 alat peledak dan dua depot amunisi dalam lima jam pertama operasi mereka di kota kuno Palmyra (Tadmur), Suriah, ungkap Kolonel Valery Ovdiyenko selaku komandan detasemen pembersihan ranjau dari Pusat Pembersihan Ranjau Internasional Angkatan Bersenjata Rusia.

“Pembersihan ranjau telah dilakukan di pinggiran kota, situs warisan budaya, dan juga di tengah kota. Dalam lima sampai enam jam pertama, para personel telah menjinakkan lebih dari 120 alat peledak,” ujarnya seperti yang dikutip TASS, Sabtu (18/3).

Tak hanya itu, pasukan Rusia juga menemukan dua depot amunisi di Palmyra. “Segala hal yang menurut kami dapat menghancurkan kota langsung kami bersihkan.”

Dengan total area mencapai 900 hektar, pasukan pembersih ranjau Rusia ditargetkan akan menyelesaikan operasinya dalam tempo satu hingga satu setengah bulan. “Ada banyak ranjau darat di kota ini. Situs warisan budaya juga sudah di pasang ranjau,” ujarnya menambahkan.

Sebelumnya pada Kamis (16/3), Kementerian Pertahanan Rusia menyebutkan bahwa lebih dari 150 tentara dan 17 unit perlengkapan dari Pusat Pembersih Ranjau Internasional Angkatan Bersenjata Rusia telah dikerahkan ke Suriah untuk operasi pembersihan ranjau di Palmyra.

Dalam menjalankan tugasnya, Pusat Pembersih Ranjau Internasional dilengkapi dengan peralatan pembersih ranjau dan perlindungan modern, seperti detektor ranjau induktif portabel IMP-2S, detektor kabel sirkuit alat peledak (PIPL), detektor alat peledak nonkontak INVU-3M, perangkat multiguna pembersih ranjau OVR-2, serta perlengkapan yang terdiri dari catu daya mandiri, dapur lapangan, serta tenda untuk pasukan.

Kelompok militan ISIS pertama kali menguasai Palmyra pada Mei 2015. Pada akhir Maret 2016, militer Suriah berhasil membebaskan kota bersejarah itu dengan dukungan pesawat-pesawat Rusia. Sayangnya, Palmyra kembali jatuh ke tangan ekstremis pada Desember lalu. Pada awal bulan ini, Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu melaporkan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin bahwa operasi pembebasan kota itu telah selesai. Seminggu kemudian, Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia melaporkan bahwa detasemen pertama yang terdiri dari 200 tentara penyapu ranjau telah tiba di Palmyra.