Putin Terima Integrasi Militer Ossetia Selatan ke Angkatan Bersenjata Rusia

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ossetia Selatan Leonid Tibilov dalam acara penandatanganan Perjanjian Hubungan Aliansi dan Integrasi Rusia-Ossetia Selatan pada 18 Maret 2015.

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ossetia Selatan Leonid Tibilov dalam acara penandatanganan Perjanjian Hubungan Aliansi dan Integrasi Rusia-Ossetia Selatan pada 18 Maret 2015.

Konstantin Zavrazhin / RG
Sebagian dari militer negara pecahan Georgia ini akan melayani Angkatan Bersenjata Rusia di pangkalan militer Rusia yang berada di Ossetia Selatan

Presiden Rusia Vladimir Putin telah memberikan instruksi pada Selasa (14/3) untuk menerima proposal pemerintah terkait pengintegrasian unit militer terpisah Ossetia Selatan ke dalam Angkatan Bersenjata Rusia dan sekaligus menandatangani perjanjian tersebut.

Putin juga menginstruksikan Kementerian Pertahanan Rusia untuk mengadakan negosiasi dengan Ossetia Selatan serta menandatangani perjanjian ini atas nama Moskow, demikian dilaporkanTASS.

Di bawah perjanjian ini, warga Ossetia Selatan dapat direkrut ke dalam Angkatan Bersenjata Rusia dan ditugaskan secara aktif di markas militer Rusia secara sukarela.

Setelah kontrak dengan Rusia disepakati, seorang warga Ossetia Selatan yang hendak dimasukkan ke dalam Angkatan Bersenjata Rusia harus terlebih dulu dibebastugaskan dari segala tugas militer di daerahnya dan penugasan selanjutnya akan diatur oleh hukum Rusia.

Perjanjian pengintegrasian beberapa unit militer Kementerian Pertahanan Ossetia Selatan ke dalam Angkatan Bersenjata Rusia ini merupakan dokumen tambahan dari Perjanjian Hubungan Aliansi dan Integrasi yang ditandatangani presiden kedua negara pada 18 Maret 2015.

Ossetia Selatan yang sebelumnya merupakan bagian dari Georgia pada era Soviet, mendeklarasikan kemerdekaannya pada tahun 1990 di tengah meningkatnya kekerasan berbasis etnis terhadap rakyat Ossetia. Deklarasi kemerdekaan menyebabkan pecahnya Perang Georgia-Ossetia Selatan yang pertama pada tahun 1991. Perang yang dilancarkan oleh kepemimpinan nasionalis Georgia tersebut merenggut ratusan jiwa dan memaksa sekitar 100 ribu warga Ossetia melarikan diri dari rumah mereka.Status hukum Ossetia Selatan sebagai republik yang merdeka hanya diakui oleh lima negara, yaitu Rusia, Venezuela, Nikaragua, Nauru, dan Tuvalu.

Perjanjian Moskow dan Tskhinval

Tahun lalu, Presiden Ossetia Selatan Leonid Tibilov mengatakan bahwa Tskhinval akan tetap mempertahankan tentaranya. Namun, sebagaimana yang diatur dalam perjanjian tambahan perjanjian aliansi, sebagian dari militer negara pecahan Georgia itu akan melayani Angkatan Bersenjata Rusia di pangkalan militer Rusia yang berada di Ossetia Selatan.

Pada Maret 2015, Tibilov dan Putin menandatangani Perjanjian Hubungan Aliansi dan Integrasi yang mengangkat isu-isu sosial, ekonomi, kemanusiaan, hubungan luar negeri, serta kerja sama pertahanan dan keamanan antara kedua negara.

Perjanjian ini diproyeksikan akan mewadahi ruang pertahanan dan keamanan antara Rusia dan Ossetia Selatan. Unit-unit terpisah pasukan militer Ossetia Selatan akan diintegrasikan ke dalam Angkatan Bersenjata Rusia. Agresi militer terhadap salah satu pihak akan dianggap sebagai tindakan agresi yang ditujukan terhadap negara lainnya.

Dokumen ini berlaku selama 25 tahun dan dapat diperpanjang hingga sepuluh tahun.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.