Putin Berikan Grasi pada Warga yang Lakukan Pengkhianatan Terhadap Negara

Sevastidi dikenakan Pasal 275 KUHP Rusia tentang pengkhianatan kepada negara. Ia kemudian menjalani hukumannya di sebuah lembaga pemasyarakatan di Ivanovo.

Sevastidi dikenakan Pasal 275 KUHP Rusia tentang pengkhianatan kepada negara. Ia kemudian menjalani hukumannya di sebuah lembaga pemasyarakatan di Ivanovo.

Arkadiy Kolybalov / Rossiyskaya Gazeta
Presiden Rusia Vladimir Putin memaafkan Oksana Sevastidi, warga Rusia yang dipenjara karena dianggap telah melakukan pengkhianatan terhadap negara.

Presiden Rusia Vladimir Putin telah menandatangani keputusan yang memaafkan Oksana Sevastidi, warga Rusia yang dihukum karena telah melakukan pengkhianatan tingkat tinggi (kepada negara), dari masa tahanannya, demikian ungkap layanan pers Kremlin.

Sevastidi (46) dinyatakan bersalah dan dihukum tujuh tahun penjara pada Maret 2016 akibat mengirim pesan singkat kepada kenalannya di Georgia pada 2008. Pesan singkat ini diketahui berisi informasi mengenai pergerakan konvoi peralatan militer ke Abkhazia.

Sevastidi dikenakan Pasal 275 KUHP Rusia tentang pengkhianatan kepada negara. Ia kemudian menjalani hukuman di sebuah lembaga pemasyarakatan di Ivanovo.

Menurut Kremlin, presiden menandatangani keputusan itu atas dasar ‘prinsip-prinsip kemanusiaan’. Dokumen tersebut menyatakan bahwa Sevastidi harus dibebaskan sehingga ia tidak perlu melanjutkan masa tahanannya. Keputusan itu berlaku lima hari setelah ia dipublikasikan.

Sementara itu, Yevgeny Smirnov, pengacara Sevastidi, mengatakan kepada TASS bahwa meskipun diberikan grasi, kliennya tetap akan meminta hukuman terhadapnya dibatalkan dan namanya dibersihkan dari segala tuduhan.

“Meskipun diberikan grasi, kami akan tetap berjuang supaya hukuman ini dibatalkan dan ia dibebaskan dari tuduhan pengkhianatan terhadap negara. Hukuman itu justru melanggar hukum dan seharusnya tidak ada," ujar Smirnov.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.