Presiden Prancis Tuduh Rusia Berupaya Pengaruhi Opini Publik Barat

Presiden Perancis François Hollande.

Presiden Perancis François Hollande.

Zuma / TASS
Presiden Perancis François Hollande mengatakan bahwa Rusia berusaha memengaruhi opini publik Barat melalui penyebaran pandangan moral yang sangat konservatif.

Negara-negara Barat harus waspada dalam merespons upaya Rusia dalam memengaruhi opini publik Barat, ujar Presiden Perancis François Hollande dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Le Monde dan beberapa koran ternama Eropa lainnya.

“Rusia menggunakan segala cara untuk memengaruhi opini publik,” ujar Hollande, sebagaimana yang dikutip TASS, Senin (6/3). “Ideologi mereka berbeda dengan Uni Soviet, tapi kadang pendekatannya sama. Apalagi saat ini teknologi sudah lebih canggih. Mereka menyebarkan pandangan moral yang sangat konservatif dengan mengklaim melindungi agama Kristen. Kita tidak boleh berlebihan, tapi memang harus waspada.”

Menurut Hollande, Rusia akhir-akhir ini mencoba “memengaruhi negara-negara bekas Uni Soviet”. “Inilah yang mereka coba lakukan di Ukraina. Mereka ingin berpartisipasi dalam menyelesaikan konflik dunia demi kepentingan mereka semata.”

“Di mata kami, tindakan Rusia di Suriah seperti ini: mereka mencoba memperkuat posisinya di sana sebagai sebuah kekuatan, menguji kesabaran kita, dan terus-terusan mengukur keseimbangan kekuatan,” ujarnya menambahkan.

Hollande menyebutkan bahwa dugaan tindakan Rusia ini harus dapat dideteksi sesegera mungkin. “Operasi ideologi mereka harus diekspos. Kita harus tahu siapa yang disponsori siapa, dan apakah mereka terhubung dengan Rusia.”

Pada saat yang sama, sang presiden mengatakan bahwa Paris dan Moskow terus menjaga komunikasi di tingkat tertinggi, terlepas dari segala kontradiksi. Menurutnya, dialog dengan Rusia sangat penting untuk “mencari solusi”.

“Untuk masalah di Suriah, menurut kami jika pihak oposisi (Suriah) dibubarkan, tidak akan ada solusi politik dalam pembicaraan di Jenewa,” kata Hollande.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.