Ikut Pameran Militer Terbesar di Timteng, Rusia Pamerkan Senjata Terbaik

IDEX 2017 tahun ini diselenggarakan untuk ke-13 kalinya dan diikuti oleh 1.235 perusahaan dari 57 negara.

IDEX 2017 tahun ini diselenggarakan untuk ke-13 kalinya dan diikuti oleh 1.235 perusahaan dari 57 negara.

TASS
Sebanyak 18 badan dan perusahaan Rusia di bidang militer akan memamerkan senjata-senjata yang sudah sering digunakan dalam operasi antiterorisme di Timur Tengah.

Rusia memamerkan senjata-senjata andalannya yang terbukti ampuh di Timur Tengah, terutama selama operasi antiterorisme, pada Konferensi dan Ekshibisi Pertahanan Internasional (IDEX) 2017. Salah satu pameran senjata dan perlengkapan militer terbesar di dunia yang diselenggarakan di Abu Dhabi ini dibuka pada Minggu (19/2).

Salah satu perusahaan yang berpartisipasi dalam acara itu adalah Rosoboronexport, perusahaan pengekspor senjata Rusia.

“Rusia melihat Timur Tengah sebagai mitra kerja sama teknis dan militer yang penting. Rosoboronexport menawarkan sampel senjata-senjata canggih dan jasa militer untuk memodernisasi perlengkapan militer Soviet dan Rusia saat ini,” ujar Wakil Direktur Jenderal Rosoboronexport Igor Sevastyanov kepada TASS.

“Senjata-senjata Rusia terbukti ampuh di Timur Tengah, terutama dalam operasi antiterorisme beberapa tahun terakhir.”

Rosoboronexport, yang memamerkan lebih dari 240 sampel senjata dan perlengkapan militer untuk setiap lini angkatan bersenjata, merupakan satu dari 18 badan dan perusahaan Rusia yang berpartisipasi di acara itu.

IDEX 2017 tahun ini diselenggarakan untuk ke-13 kalinya dan diikuti oleh 1.235 perusahaan dari 57 negara, termasuk Rusia. Menurut komite pelaksana acara, ekshibisi ini akan dikunjungi lebih dari 150 delegasi negara dan lebih dari 100 ribu pakar.

Delegasi Rusia dipimpin oleh Menteri Perdagangan dan Industri Denis Manturov, sementara Wakil Direktur Layanan Federal untuk Kerja Sama Teknik-Militer Rusia (FSMTC) Alexei Frolkin ditunjuk sebagai wakil pemimpin delegasi.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.