NATO Ekspansi di Laut Hitam, Putin: Mereka Selalu Ikut Campur Urusan Kita

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg.

EPA
Pada Kamis (16/2), NATO mengumumkan bahwa mereka akan meningkatkan kehadiran militer di Laut Hitam. Putin merespons dengan mengatakan bahwa negara-negara anggota NATO “hendak mengacaukan tatanan sosial dan politik di Rusia”.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa NATO selalu ikut campur urusan dalam negeri Rusia, seiring meningkatnya ekspansi militer aliansi tersebut di Laut Hitam.

Sang presiden mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, situasi keamanan global “tidak meningkat, tapi malah makin banyak ancaman-ancaman yang semakin serius”. Dengan adanya ekspansi itu, NATO ingin “menghalangi Rusia”, ujar Putin seraya menyebutkan bahwa NATO hendak mengacaukan tatanan sosial dan politik di Rusia.

“Itulah tujuan di balik ekspansi militer mereka. Ini pernah terjadi sebelumnya, tapi sekarang mereka menemukan justifikasi untuk melakukan itu,” ujar Putin, seperti dikutip RT, Kamis (16/2). “Nyatanya, mereka terus-menerus memprovokasi kita, ingin menyeret kita ke dalam konfrontasi.”

Sebelumnya pada hari yang sama, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan bahwa negara-negara anggota aliansi setuju untuk meningkatkan kehadiran militer di Laut Hitam.

“Hari ini, kami setuju untuk meningkatkan jumlah pasukan di Laut Hitam untuk pelatihan dan kesadaran situasional, serta koordinasi antara Standing Naval Forces kami dengan angkatan laut negara-negara anggota ketika beroperasi di daerah Laut Hitam,” ujar Stoltenberg.

Stoltenberg juga mengatakan bahwa pada Juni mendatang, empat pasukan akan dikerahkan di perbatasan Rusia dengan Estonia, Latvia, Lituania, dan Polandia untuk “mewanti-wanti penyerang potensial”.

Selain gangguan dari NATO, Putin menyebutkan bahwa badan-badan intelijen asing juga berusaha melakukan hal yang sama.

“Dalam setahun terakhir, kami telah menangkap 53 operasi intelijen dan 386 agen dari badan-badan intelijen luar negeri,” ujarnya.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.