Wakil PM Turki: Serangan Rusia ke Tentara Turki Sepenuhnya Tak Disengaja

Staf umum Turki mengatakan bahwa serangan udara Rusia tak sengaja menewaskan tiga orang tentara Turki dan melukai 11 personel lainnya di Suriah utara.

Staf umum Turki mengatakan bahwa serangan udara Rusia tak sengaja menewaskan tiga orang tentara Turki dan melukai 11 personel lainnya di Suriah utara.

Vitaly V. Kuzmin
Peristiwa ini tidak akan berdampak pada merenggangnya kerja sama antara kedua negara.

Serangan udara Rusia di Suriah yang menewaskan tiga tentara Turki dan melukai 11 personel lainnya “sepenuhnya tak disengaja”, ungkap Wakil Perdana Menteri Turki Numan Kurtulmuş, Jumat (10/2).

Kepada saluran televisi Turki NTV, Kurtulmuş mengungkapkan bahwa berdasarkan data awal, serangan tersebut terjadi akibat “kurangnya koordinasi”.

“Ini sepenuhnya peristiwa tak disengaja. Belasungkawa Presiden Putin dan Rusia atas terjadinya kecelakaan ini penting untuk diketahui,” ujar Kurtulmuş kepada NTV, seperti yang dikutip Sputnik. “Sudah jelas bahwa ini adalah kecelakaan, tapi kami perlu tahu kenapa ini bisa terjadi dalam koordinasi.”

Sebelumnya, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa Putin segera menelepon Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan pada Kamis lalu untuk mengungkapkan belasungkawa atas kematian tentara Turki di dekat al-Bab, Suriah.

“Presiden Putin telah menginformasikan hasil percakapan teleponnya dengan Presiden Erdoğan beberapa waktu lalu. Presiden mengatakan bahwa ia telah mengungkapkan belasungkawa kepada Presiden Erdoğan atas tewasnya beberapa tentara Turki akibat kurangnya koordinasi Pasukan Kedirgantaraan Rusia dalam menentukan koordinat serangan dalam sebuah operasi bersama,” kata Peskov, seperti yang dikutip Sputnik.

Kedua negara sepakat untuk meningkatkan koordinasi supaya kejadian serupa tidak terulang lagi, kata Peskov menambahkan. Sejak Januari, jet-jet militer Rusia dan Turki telah beberapa kali melancarkan serangan terhadap sasaran-sasaran ISIS di dekat al-Bab, Suriah. Al-Bab adalah salah satu benteng pertahanan terakhir ISIS yang tersisa di dekat perbatasan Turki. Bagi Turki, merebut kota ini merupakan bagian dari kepentingan strategis mereka demi mencegah Kurdistan Suriah mengambil dan menyatukan wilayah mereka.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.