Meski Belum Ada Kerja Nyata, Kontak Rusia-AS Terkait Suriah Berlanjut

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.

Flickr / MFA Russia
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov meyakini bahwa terlepas dari berbagai perbedaan, frekuensi pertemuan antara kedua negara untuk menyelesaikan konflik Suriah tidak akan berkurang.

Diplomat-diplomat Rusia dan AS melanjutkan pembicaraan mengenai permasalahan di Suriah dalam sebuah pertemuan di Jenewa, Swiss, demikian diungkapkan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, Selasa (7/2).

“Meskipun pemerintahan Obama gagal mengimplementasikan kesepakatan (gencatan senjata) yang berhasil disepakati pada September lalu — yang membuka jalan bagi koordinasi nyata antara Rusia dan koalisi pimpinan AS dalam memerangai terorisme di Suriah — kontak kerja (antara Rusia dan AS) berlanjut di Jenewa,” ujar Lavrov.

“Meskipun belum ada perjanjian yang disepakatai karena penolakan AS dan perbedaan pandangan di dalam Gedung Putih, kontak kerja terus terjadi, termasuk di Jenewa,” kata Lavrov menambahkan. “Setiap minggu, kedua pihak selalu bertemu di Jenewa dan membahas beragam isu, termasuk gencatan senjata dan kemanusiaan.”

Sebelum pertemuan mingguan ini, diplomat-diplomat Rusia dan AS serta perwakilan PBB beberapa kali mengadakan pertemuan koordinasi, ujar Lavrov. Sang menlu yakin bahwa di bawah kepemimpinan Donald Trump, kontak Rusia-AS akan tetap intens.

“Jika struktur penugasan di Suriah sudah jelas dan posisi-posisi terkait telah diisi, saya yakin setidaknya frekuensi pertemuan antara kedua negara tidak akan berkurang,” ujar Lavrov.

Lavrov meyakini hal ini karena Trump berkali-kali telah menyerukan ISIS sebagai ancaman utama dan pentingnya antisipasi terhadap jaringan teroris itu. “Ini sesuai dengan prinsip kami.”

Sebelumnya, penasihat kebijakan luar negeri presiden AS mengatakan ada kemungkinan terciptanya koalisi antiterorisme antara AS dan Rusia, serta negara-negara Islam dan Arab.

“Kontak (antara AS dan Rusia) sudah berlanjut lagi, dan pemimpin kedua negara memutuskan untuk bekerja sama mencari solusi terkait terorisme. Lalu, aliansi antara negara-negara Islam dan Arab juga mungkin akan terbentuk,” ujar sang penasihat, Walid Phares, kepada Sputnik.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.