AS Bangun Pusat Perang Informasi untuk Melawan Rusia

AS menilai Rusia berperan sebagai ‘antagonis utama’.

AS menilai Rusia berperan sebagai ‘antagonis utama’.

PhotoXpress
Amerika Serikat mendirikan Pusat Perang Informasi dalam upaya melawan ‘informasi palsu’ yang kerap ditujukan kepadanya.

Amerika Serikat mendirikan Pusat Perang Informasi untuk melawan Rusia, demikian hal tersebut dilansir The Daily Beast. Pusat yang dikenal sebagai Global Engagement Center (GEC) ini direncanakan mulai beroperasi pada akhir 2017.

Rob Portman, seorang senator dari Partai Republik, dan Chris Murphy dari Partai Demokrat menginisiasi pendirian GEC. The Daily Beast menyebutkan, dana sebesar 160 juta dolar AS akan dialokasikan untuk merealisasikan proyek ini selama dua tahun ke depan.

Selain itu, Senator John McCain dan Ben Cardin — dua pendukung besar sanksi anti-Rusia — bahkan berencana turut menyumbang dana sebesar 100 juta dolar AS untuk mendukung jurnalisme dalam bahasa Rusia yang objektif, melawan ‘berita palsu’, serta mendukung penelitian terhadap dampak perang informasi.

GEC dibangun untuk melacak kampanye propaganda asing, menganalis taktik, dan melawannya dengan mendanai wartawan-wartawan asing, LSM, serta berbagai perusahaan swasta. Sebagai contoh, organisasi independen Bellingcat dan StopFake.org. Kedua organisasi yang dianggap menyajikan ‘informasi akurat’ dan melawan pemberitaan media Rusia di Ukraina ini berhak mendapat pendanaan dari GEC.

GEC didirikan semasa pemerintahan Barack Obama dan pada awalnya ditujukan untuk melawan propaganda teroris ISIS.

Kini, Murphy dan Portman memperluas lingkup kerja badan ini, yaitu untuk melawan propaganda, termasuk dari Rusia yang dinilai berperan sebagai ‘antagonis utama’, demikian dilansir The Daily Beast.

“Musuh kami menggunakan propaganda asing dan menyebarkan informasi palsu terhadap kami serta koalisi kami. Selama ini, AS hanya berdiam diri. Kini, kami harus harus bergerak menghentikan informasi palsu yang diberitakan Rusia, Tiongkok, dan negara-negara lain, serta meningkatkan akses informasi yang faktual,“ tutur Portman.

Sejak Oktober lalu, Gedung Putih telah menuduh Rusia mengintervensi pemilihan presiden AS dengan melakukan serangan siber terhadap Hillary Clinton dan Komite Nasional Demokrat (DNC).Menanggapi tuduhan tersebut, pejabat senior Rusia telah berulang kali membantah klaim Washington, menganggap mereka konyol, dan menyebutnya sebagai sebuah upaya untuk mengalihkan perhatian masyarakat AS dari isu domestik.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.