Awasi Gencatan Senjata, Trio Rusia-Turki-Iran Rancang Mekanisme Pengawasan

Diskusi perdamaian Suriah di Astana, Kazakhstan.

Diskusi perdamaian Suriah di Astana, Kazakhstan.

Reuters
Gugus tugas gabungan antara ketiga negara untuk membantu menyelesaikan konflik di Suriah sebentar lagi menjadi kenyataan, seiring hampir selesainya rancangan mekanisme terkait pemantauan gencatan senjata antara pemerintah dan oposisi Suriah.

Gugus tugas gabungan antara Rusia, Turki, dan Iran hampir menyelesaikan mekanisme pengawasan gencatan senjata untuk mengatasi konflik di Suriah, ungkap delegasi Rusia Stanislav Gadzhimagomedov dalam pertemuan perwakilan ketiga negara di Astana, Kazakhstan, Senin (7/2).

Gadzhimagomedov, yang juga menjabat sebagai wakil kepala Departemen Operasional Angkatan Bersenjata Rusia, mengatakan, “Kami hampir menyelesaikan rancangan terkait gencatan senjata (di Suriah). Rincian selanjutnya akan dibahas di ibu kota (Moskow), dan di pertemuan selanjutnya kami akan menandatangani dokumen,” ujar Gadzhimagomedov, seperti dikutip Sputnik. Seorang delegasi lain menyatakan bahwa rancangan mekanisme ini sudah mencapai 90 persen.

Gadzhimagomedov juga mengatakan bahwa Rusia menawarkan dua rancangan dokumen untuk mengawasi jalannya gencatan senjata. Yang pertama, kata Gadzhimagomedov, adalah protokol mengenai perjanjian gencatan senjata. Protokl ini berfokus pada penghentian permusuhan serta tanggung jawab pihak-pihak terkait untuk memastikan adanya jalur kemanusiaan dan pembebasan orang-orang yang ditawan.

Yang kedua adalah undang-undang perdamaian yang dirancang untuk menstabilkan situasi di daerah rawan secepat mungkin.

“Dokumen-dokumen ini rumit dan tentunya perlu dicek juga oleh pihak oposisi dan pemerintah Suriah,” kata Gadzhimagomedov, seraya berharap bahwa pertemuan selanjutnya akan membahas naskah yang sudah diajukan.

Namun begitu, ketiga negara belum membahas lebih lanjut perihal konstitusi Suriah. “Konstitusi mereka belum didiskusikan. Para ahli masih fokus dengan mekanisme pemantauan kepatuhan terkait gencatan senjata.”

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.