Tak Mampu Cegah Terorisme, NATO Malah Berfokus pada ‘Ancaman dari Rusia’

Sekjen NATO Jens Stoltenberg dalam sebuah konferensi pers setelah pertemuan Komisi NATO-Ukraina di markas NATO di Brussel.

Sekjen NATO Jens Stoltenberg dalam sebuah konferensi pers setelah pertemuan Komisi NATO-Ukraina di markas NATO di Brussel.

AP
Analis politik berpendapat bahwa NATO malah berfokus mengatasi ‘ancaman dari Rusia’ — yang sebenarnya tak ada — dibanding mengatasi ancaman terorisme yang berada di depan mata.

NATO terlalu berfokus mengatasi apa yang mereka klaim sebagai ‘ancaman dari Rusia’, yang sebenarnya tidak ada, dibandingkan mengatasi ancaman-ancaman yang nyata. Demikian hal itu diungkapkan Aleksandr Perendzhiev, seorang analis politik di Universitas Ekonomi Plekhanov Rusia, kepada Radio Sputnik.

“Saat ini, NATO terlalu anti-Rusia. Padahal, semua orang tahu mereka seharusnya fokus mengatasi terorisme daripada mengatasi khayalan yang mereka buat-buat. NATO saat ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya: melindungi anggotanya dari terorisme,” ujar Perendzhiev. Namun begitu, ia mengatakan “transformasi NATO adalah sesuau yang tidak terelakkan dan modernisasi akan mengubah organisasi ini”.

Elit-elit Eropa, menurut Perendzhiev, berupaya meyakinkan warganya bahwa masyarakat membutuhkan NATO. Ia mengatakan bahwa ada hubungan antara dukungan terhadap organisasi tersebut dengan opini masyarakat terkait ancaman yang dapat ditimbulkan Rusia.

“Sebagai contoh, ada lebih sedikit orang yang mendukung NATO di Spanyol — karena ‘ancaman dari Rusia’ tidak dianggap penting — dibandingkan di Polandia atau Jerman,” ujarnya.

Komentar Perendzhiev merupakan tanggapan terhadap sebuah survei yang dilakukan IFop untuk Sputnik dengan responden warga Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Inggris. Berdasarkan hasil survei, lebih dari setengah responden berpendapat bahwa NATO dan AS perlu memastikan keamanan mereka. Sementara, hanya 48 persen responden berkewarganegaraan AS yang berpikir demikian.

Perang Propaganda

Analis senior di Institut Ilmu Strategis Rusia, Sergey Ermakov, menegaskan bahwa masyarakat biasa merupakan korban kampanye “propaganda”.

“Tatanan dunia internasional sedang berubah. Proses ini berlangsung seiring bergejolaknya perang propaganda. Jajak pendapat menunjukkan bahwa orang-orang biasa adalah korban perang ini,” ujarnya.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyebut NATO sebagai organisasi usang karena tidak mampu melindungi anggotanya — terutama Jerman, Perancis, dan Belgia — dari serangan teroris. Namun demikian, Trump mengatakan bahwa ia berkomitmen membantu blok tersebut karena NATO penting buat AS.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.