Isu ISIS Jadi Prioritas, AS-Rusia Kemungkinan Bentuk Koalisi Antiteroris

Presiden AS Donald Trump membuka kemungkinan adanya koalisi antiterorisme antara AS dan Rusia.

Presiden AS Donald Trump membuka kemungkinan adanya koalisi antiterorisme antara AS dan Rusia.

Reuters
AS dan Rusia sepakat untuk bersama-sama mencari solusi penanganan terorisme setelah percakapan telepon pertama antara presiden kedua negara.

Penasihat kebijakan luar negeri Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan ada kemungkinan terciptanya koalisi antiterorisme antara AS dan Rusia, serta negara-negara Islam dan Arab.

“Kontak (antara AS dan Rusia) sudah berlanjut lagi, dan pemimpin kedua negara memutuskan untuk bekerja sama mencari solusi terkait terorisme. Lalu, aliansi antara negara-negara Islam dan Arab juga mungkin akan terbentuk,” ujar sang penasihat, Walid Phares, kepada Sputnik.

Pada 20 Januari lalu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menegaskan bahwa tidak ada alternatif lagi selain membentuk barisan antiteror untuk mengatasi terorisme di seluruh dunia.

Dalam pernyataan prapemilihannya, Trump pernah mengatakan bahwa ia memprioritaskan perlawanan terhadap organisasi teroris ISIS. Presiden Putin dan Presiden Trump pun telah mendiskusikan upaya antiteror dalam percakapan telepon pertama mereka pada Sabtu (28/1) lalu. Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa Putin dan Trump mungkin akan bertemu di KTT G20 di Hamburg, Jerman, pada 7– 8 Juli.

Pada Desember lalu, Presiden Suriah Bashar al-Assad menyatakan bahwa jika Trump berkomitmen pada janjinya melawan terorisme, AS akan menjadi sekutu Suriah, seperti Rusia dan Iran.

Phares mengatakan bahwa Trump mengerti sikap anggota Kongres AS terkait hubungan Washington-Moskow saat ini, tapi ia percaya kedua negara harus “maju ke depan”.

Banyak anggota parlemen AS yang menyadari bahwa hubungan kedua negara ini rumit dan “ada beberapa isu yang hadir di masa lalu dan tetap ada hingga hari ini”, ungkapnya.

“Trump mengerti sikap beberapa anggota kongres, namun menurutnya kita berada di tahap yang baru dan harus maju ke depan,” lanjut Phares.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.