Serang ISIS, Rusia-Turki Kembali Lancarkan Operasi Udara Gabungan di Suriah

Pesawat tempur Su-24M milik Pasukan Kedirgantaraan Rusia lepas landas dari Pangkalan Udara Hmeimim di Latakia, Suriah.

Pesawat tempur Su-24M milik Pasukan Kedirgantaraan Rusia lepas landas dari Pangkalan Udara Hmeimim di Latakia, Suriah.

Mil.ru
Operasi gabungan ini telah mendapatkan izin dari pemerintah Suriah.

Rusia dan Turki kembali melancarkan serangan udara gabungan di dekat Al-Bab, Suriah, setelah badan intelijen kedua negara bertukar data posisi target ISIS yang hendak digempur, terang Kementerian Pertahanan Rusia, Kamis (26/1).

Sputnikmelaporkan, operasi gabungan yang melibatkan pesawat tempur Su-24M dan Su-35S Rusia serta pesawat tempur F-16 dan pesawat multiperan F-4 Turki ini sebelumnya telah mendapatkan izin dari pemerintah Suriah.

"Sebagai hasil dari operasi gabungan itu, kami berhasil menghancurkan tiga pos komando dan pusat komunikasi, serta sejumlah benteng teroris," terang Kemenhan Rusia.

Sejak 18 Januari, pesawat tempur Rusia dan Turki telah menghancurkan sekitar 60 sasaran teroris. Pasukan Kedirgantaraan Rusia dan Angkatan Udara Turki bersama-sama meluncurkan serangan udara terhadap ISIS pada 18 Januari, 21 Januari, dan 26 Januari.

Terkait serangan di Al-Bab, kemenhan menyebutkan bahwa sebanyak 58 sasaran dari kelompok teroris ISIS telah dilenyapkan. Tak hanya itu, gudang-gudang senjata, persediaan bahan bakar, serta kelompok militan yang dilengkapi perangkat militer lainnya pun berhasil dihancurkan.

Selama perencanaan operasi, pusat komando Pasukan Kedirgantaraan Rusia di Pangkalan Udara Hmeimim di Latakia, Suriah, dan pusat komando Angkatan Udara Turki secara reguler bertukar informasi intelijen terkait koordinat posisi ISIS. Target teroris pun dikonfirmasi melalui wahana pengintaian udara.

Berita ini muncul di tengah gencatan senjata nasional di Suriah yang didukung oleh Rusia dan Turki, yang mulai berlaku pada 30 Desember dan kemudian didukung oleh resolusi Dewan Keamanan PBB.

Saat ini, Turki tengah melakukan operasi Perisai Efrat di Suriah. Pada 24 Agustus 2016, pasukan Turki yang didukung oleh pemberontak Tentara Pembebasan Suriah (FSA) dan pesawat-pesawat koalisi yang dipimpin AS memulai operasi Perisai Efrat untuk membebaskan kota Jarabulus di perbatasan Suriah-Turki dan daerah sekitarnya dari teroris ISIS. Setelah Jarabulus berhasil direbut kembali, pasukan gabungan dari Ankara, koalisi, dan pemberontak Suriah melanjutkan operasi untuk mendapatkan kontrol atas Al-Bab yang berada 40 kilometer dari timur laut Aleppo.

Al-Bab adalah salah satu benteng pertahanan terakhir ISIS yang tersisa di dekat perbatasan Turki. Bagi Turki, merebut kota ini merupakan bagian dari kepentingan strategis mereka demi mencegah Kurdistan Suriah mengambil dan menyatukan wilayah mereka.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.