Trump Siap Cabut Sanksi Terhadap Rusia dan Hapus Kebijakan ‘Satu Tiongkok’

Tergantung seberapa membantu peran Rusia dalam perang melawan terorisme.

Presiden terpilih AS mengungkapkan keterbukaannya untuk mencabut sanksi terhadap Rusia dengan syarat tertentu, demikian disampaikan Trump dalam wawancara dengan Wall Street Journal, seperti dilaporkan RT.

Dalam wawancara pada Jumat (13/1) lalu, Trump menyebutkan bahwa ia bersedia mempertahankan sanksi yang diberikan pemerintahan Obama pada Rusia ‘setidaknya untuk satu periode’.

Namun, ia mengaku akan mempertimbangkan pencabutan sanksi, tergantung dari seberapa membantu peran Rusia dalam perang melawan terorisme, serta dalam hal-hal lain yang dianggap sesuai dengan tujuan AS.

"Jika Rusia benar-benar membantu kita, mengapa kita harus memberi sanksi, padahal ia melakukan hal-hal yang sangat hebat?" kata Trump.

Sang presiden terpilih juga mengaku siap bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin setelah menempati Gedung Putih.

“Saya mengerti mereka ingin bertemu dan menurut saya itu tak apa-apa," kata Trump.

Kebijakan ‘Satu Tiongkok’

Sementara, ketika ditanya mengenai Kebijakan Satu Tiongkokm yakni pengakuan diplomatik bahwa hanya ada satu pemerintahan Tiongkok, Trump mengaku tak akan menentang perdebatan panjang terkait hubungan Tiongkok-Taiwan.

"Semua sedang dinegosiasikan, termasuk Kebijakan Satu Tiongkok," kata Trump.

Setelah memenangkan pemilu, Trump menerima telepon dari pemimpin Taiwan, Tsai Ing-wen, yang memberi ucapan selamat atas kemenangannya.

Menanggapi kicauan Trump mengenai komunikasi tersebut, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi menyampaikan pada Phoenix TV yang berbasis di Hongkong bahwa, "Kebijakan Satu Tiongkok merupakan fondasi perkembangan hubungan yang sehat antara Tiongkok-AS dan kami tak ingin ada gangguan atau kekacauan yang menerpa fondasi politik ini."

Trump menyampaikan pada Wall Street Journal bahwa tentu tak sopan jika ia tak menerima telepon tersebut.

“Kita menjual perangkat militer senilai dua miliar dolar AS pada mereka tahun lalu. Kita bisa menjual perangkat militer terbaru dan tercanggih kita sebanyak 2 miliar, tapi tak boleh menerima sebuah panggilan telepon," kata Trump.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.