Pengurangan Jumlah Tentara Rusia Picu Kekhawatiran Front Demokrasi Suriah

Tentara Rusia di markas Hmeimim, Suriah.

Tentara Rusia di markas Hmeimim, Suriah.

Maksim Blinov / RIA Novosti
Kelompok tersebut khawatir para militan memanfaatkan momen ini untuk kembali mengangkat senjata dan merebut kekuasaan.

Front Demokrasi Suriah, yang merupakan wadah pemersatu kelompok oposisi Suriah, menanggapi langkah Rusia mengurangi jumlah tentaranya di Suriah dengan kewaspadaan. Mereka mengaku khawatir kelompok militan akan menggunakan momen ini sebagai kesempatan untuk kembali mengangkat senjata dan merebut kekuasaan. Hal itu disampaikan Juru Bicara Front Demokrasi Suriah Mais Krydee kepada Sputnik, Sabtu (7/1).

"Kami menanggapi langkah Rusia ini dengan kehati-hatian, mengingat banyaknya kelompok militan yang turut berperang di Suriah. Langkah Rusia mungkin dapat mendorong proses negosiasi dan membawa sejumlah pihak yang berseteru ke meja perundingan. Namun, apakah kelompok militan siap untuk meletakkan senjata mereka? Apakah mereka siap untuk menerima solusi politik? Bagaimana jika kelompok militan menggunakan momen ini untuk kembali merebut kekuatan? Kita harus berhati-hati terkait hal ini," papar Krydee.

Menurut Krydee, Front Demokrasi Suriah yang berdiri pada akhir Desember ini sangat percaya pada Rusia dan upaya Rusia dalam menyelesaikan krisis."Kami percaya terhadap Rusia dan langkah-langkah yang mereka ambil. Kami percaya terhadap pendekatan Rusia dalam proses negosiasi. Misi besar mereka di Suriah adalah memberantas terorisme," kata Krydee.

Pada Jumat (6/1) lalu, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia Jenderal Valery Gerasimov mengumumkan bahwa Rusia mulai mengurangi kehadiran militernya di Suriah dengan menarik rombongan kapal Armada Utara yang dipimpin oleh kapal induk Laksamana Kuznetsov.

Langkah pengurangan kehadiran militer Rusia di Suriah berawal dari perintah Presiden Rusia Vladimir Putin sesuai rekomendasi Menteri Pertahanan Sergei Shoigu yang dicetuskan 29 Desember lalu, setelah pengumuman gencatan senjata. Gencatan senjata nasional antara pemerintah Suriah dan kelompok oposisi mulai berlaku pada 30 Desember waktu setempat. Rusia dan Turki berperan sebagai penjamin dalam kesepakatan gencatan senjata tersebut.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.