Laporan Rahasia Dugaan Peretasan Rusia Bocor ke Media, Trump Geram

Beberapa media menerima laporan tersebut sebelum jatuh ke tangan Trump.

Presiden terpilih AS Donald Trump mengkritik kebocoran rincian isi laporan rahasia terkait dugaan peretasan Rusia dalam pemilu presiden AS di beberapa jaringan media. Pemberitaan mengenai isi laporan muncul sebelum Trump sendiri mengelar rapat terkait rincian laporan tersebut, demikian dikabarkanRT, Jumat (6/1).

Laporan sebanyak 50 halaman itu dikirim kepada Presiden AS Barack Obama pada Kamis (5/1), dan disampaikan ke presiden terpilih AS Donald Trump keesokan harinya oleh pejabat penting intelijen, termasuk Direktur Intelijen Nasional AS James Clapper serta Direktur CIA John Brennan, tulisWashington Post yang merupakan salah satu dari beberapa media yang mendapat prioritas lebih dulu dari presiden terpilih AS untuk mempelajari rincian laporan tersebut.

CNN dan NBC News juga mengabarkan laporan rahasia tersebut sebelum sampai ke tangan Trump, sehingga memicu kemarahan sang presiden terpilih.

“Bagaimana NBC bisa mengetahui laporan rahasia penting secara eksklusif yang diajukan pada Obama? Siapa yang memberi mereka laporan ini dan kenapa? Politik!” tulis Trump dalam cuitannya di media sosial Twitter. Trump lantas meminta Kongres AS melakukan penyelidikan terkait kebocoran itu.

Dalam laporan yang dimaksud, pernyataan mata-mata AS yang menyadap komunikasi antara pejabat Rusia menjadi salah satu alat bukti. Dari hasil penyadapan mereka, para pejabat Rusia diketahui menyebut kemenangan Trump sebuah kesuksesan geopolitik bagi Rusia. Laporan tersebut juga menyatakan bahwa intelijen AS telah mengidentifikasi ‘perantara’ yang diduga menyerahkan surel yang dicuri dari Partai Demokrat kepada WikiLeaks. Media AS tak menyebutkan nama orang-orang tersebut atau menjelaskan bagaimana hubungan mereka dengan pemerintah Rusia.

Banyak pejabat Rusia yang tak merahasiakan preferensi mereka terhadap kepresidenan Trump setelah kemenangan yang mengejutkan pada November lalu. Parlemen Rusia bahkan menyambut kemenangan tersebut dengan tepuk tangan. Beberapa pihak menilai Trump bisa membantu membangun kembali hubungan dengan Rusia dari awal, sementara kandidat dari Partai Demokrat Hillary Clinton tak disukai Rusia atas kebijakan-kebijakan yang telah memicu sejumlah konflik antara Rusia dan AS.

Rusia dan WikiLeaks membantah tuduhan bahwa pihak WikiLeaks menerima surel bernada sensitif dari pemerintah Rusia. Pihak WikiLeaks sendiri menegakan bahwa surel Partai Demokrat AS tidak dicuri, melainkan dibocorkan oleh anggota Partai Demokrat yang tidak puas dengan persekongkolan untuk mengacaukan pencalonan Bernie Sanders demi mendukung Hillary Clinton sebagai capres.

Sebelumnya, FBI dan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS merilis laporan gabungan sepanjang 13 halaman terkait dugaan intervensi Rusia dalam pemilu AS. Laporan yang disebut ‘Grizzly Steppe’ oleh komunitas intelijen AS ini menuturkan operasi peretasan yang melibatkan malware Ukraina yang telah kadaluarsa serta IP address yang dapat digunakan penjahat siber dalam operasi peretasan.

Pada Kamis (4/1), Clapper memperluas lingkup 'upaya Rusia untuk mengacaukan demokrasi AS', termasuk melaporkan RT memihak dalam kampanye pemilu, penyebaran ‘berita palsu’, serta komunikasi melalui media sosial.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.