Eks Analis CIA: Tanpa Putin, Clinton Sudah Mendiskreditkan Dirinya Sendiri

“Bukan Vladimir Putin yang menyuruh Hillary Clinton menggunakan akun surel pribadi untuk urusan pemerintahan AS dan membagikan informasi rahasia melalui akun tersebut. Mereka mempermainkan dan mengintervensi kebijakan domestik,” papar Johnson.

“Bukan Vladimir Putin yang menyuruh Hillary Clinton menggunakan akun surel pribadi untuk urusan pemerintahan AS dan membagikan informasi rahasia melalui akun tersebut. Mereka mempermainkan dan mengintervensi kebijakan domestik,” papar Johnson.

Reuters/Vostock Photo
Tuduhan peretasan dan intervensi Moskow pada pilpres AS menunjukkan rendahnya level kecerdasan komunitas intelijen Amerika, kata mantan analis CIA Larry Johnson.

Tujuan utama tuduhan peretasan Rusia dalam pemilu AS adalah propaganda untuk mendiskreditkan Trump, dengan mengklaim bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin secara pribadi melakukan intervensi untuk mendiskreditkan Hillary Clinton. Namun, Clinton tak butuh bantuan semacam itu karena ia telah mendiskreditkan dirinya sendiri, demikian disampaikan mantan analis CIA Larry Johnson kepada RT, Sabtu (7/1).

“Tuduhan ini bermaksud menjelekkan Trump. Klaim yang beredar ialah Putin secara langsung menginstruksikan badan intelijen Rusia untuk mendiskreditkan Hillary Clinton. Padahal, Clinton tak membutuhkan bantuan siapa pun karena ia cukup efektif dalam mendiskreditkan dirinya sendiri,” kata Johnson.

“Bukan Vladimir Putin yang menempatkan server surel di kamar mandi Clinton. Bukan Vladimir Putin yang menyuruh Hillary Clinton menggunakan akun surel pribadi untuk urusan pemerintahan AS — dan membagikan informasi rahasia melalui akun tersebut. Hal ini sangat konyol untuk dibicarakan, tapi sekaligus menunjukkan rendahnya level kecerdasan komunitas intelijen AS. Mereka mempermainkan dan mengintervensi kebijakan domestik,” papar Johnson.

Laporan tersebut kekurangan bukti faktual karena badan intelijen AS tampaknya memang tak memiliki bukti tersebut, ujar Johnson.

“Saya rasa mereka tidak menyembunyikan apapun karena mereka memang tak memiliki bukti,” kata Johnson.

“Mereka menyampaikan pernyataan seperti, 'Kami menilai bahwa...’, ‘Kami yakin bahwa...’, atau ‘Mungkin bahwa...’ Itu berarti mereka tidak tahu, karena jika Anda tahu, Anda bisa berkata di depan publik, ‘Berdasarkan informasi dari beberapa narasumber kami mengetahui bahwa...’ Dengan demikian, Anda menyampaikan fakta,” terang Johnson.

“Ini adalah lelucon. Jika saya seorang analis intelijen Rusia, saya akan curiga dan berpikir ‘Apa yang sedang dilakukan AS? Mereka tidak mungkin sebodoh ini.’ Tapi memang mereka benar-benar demikian,” tambah Johnson.

Johnson menilai isu mengenai peretasan ini terkesan seperti hal yang sedang dipertontonkan.

Sebelumnya, pakar antivirus Amerika Serikat John McAfee menyebutkan bukti-bukti yang mendasari tuduhan keterlibatan Rusia dalam peretasan pemilu AS terlihat seperti 'propaganda besar-besaran yang ditujukan bagi masyarakat AS'.

McAfee menilai seluruh narasi mengenai peretasan Rusia merupakan propaganda yang bertujuan menghasut masyarakat AS agar membenci Rusia. Sang pakar keamanan siber percaya bahwa berdasarkan bukti yang ada, peretasan tersebut tak mungkin dilakukan oleh sebuah negara.

"Peretasan terhadap Partai Demokrat menggunakan seperangkat malware yang berusia satu setengah tahun dan telah ada banyak perbaruan sejak itu," kata McAfee. "Peretasan tersebut dilakukan oleh seseorang yang independen yang mengunduh software tersebut. Sungguh, ini bukan peretasan yang diatur dan jelas bukan sebuah negara yang melakukan ini."

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.