Mantan Gubernur Arkansas: Amerika Sudah Biasa Meretas Sistem Negara Lain

Selama kampanye pilpres di Amerika Serikat, Moskow telah berulang kali dituduh meretas dan berupaya memengaruhi hasil pemilu.

Selama kampanye pilpres di Amerika Serikat, Moskow telah berulang kali dituduh meretas dan berupaya memengaruhi hasil pemilu.

ShutterStock/Legion Media
Mantan gubernur Arkansas berkomentar mengenai tuduhan peretasan yang dituduhkan Washington terhadap Moskow.

Mantan Gubernur Arkansas Mike Huckabee mendesak AS untuk jujur dan mengakui bahwa bagi mereka serangan siber yang ditujukan terhadap negara-negara lain merupakan praktik yang biasa dilakukan, demikian tutur Huckabee dalam wawancaranya yang disiarkan Fox News.

"Tentu saja kami berusaha untuk meretas sistem Rusia, Tiongkok, Korea Utara, Iran, dan semua pihak yang kami takuti. Kami sangat bodoh jika tidak melakukannya! Tentu saja kami melakukannya," katanya menjelaskan.

Huckabee menyampaikan bahwa beberapa tahun yang lalu, pemerintahan Barack Obama pernah berinvestasi jutaan dolar untuk memengaruhi hasil pemilu di Israel. Namun, AS justru memilih bungkam mengenai hal tersebut, tutur Huckabee.

Menanggapi pertanyaan mengenai efek serangan siber yang diduga dilakukan Moskow terhadap AS, Huckabee menyampaikan bahwa warga Amerika tidak percaya bahwa Rusia dapat memengaruhi hasil pemilihan presiden AS. 

"Pengaruhnya tidak besar. Kebanyakan orang Amerika tidak percaya bahwa Rusia dapat memengaruhi hasil pemilu. Kalaupun ada bukti bahwa Rusia berhasil meretas sistem kami dan mendapatkan surat-surat elektronik Kepala Tim Sukses Hillary Clinton John Podesta, bukti tersebut tidak akan memengaruhi siapa yang akan dipilih oleh masyarakat, dan entah bagaimana Rusia tiba-tiba dapat memengaruhi jalannya pilpres yang lalu," kata Huckabee seperti yang dikutip oleh RIA Novosti.

Minggu depan, Direktorat Intelijen Nasional AS berencana untuk memublikasikan laporan terkait 'serangan siber' dari Rusia. Menurut Direktur James Clapper, dokumen tersebut tidak akan berisi 'informasi sensitif' mengenai sumber-sumber dan metode penyelidikan.

Selama kampanye pilpres AS, Moskow telah berulang kali dituduh meretas dan berupaya memengaruhi hasil pemilu. Menanggapi hal tersebut, pemerintah Rusia telah menyangkal tuduhan peretasan.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan Rusia tidak memiliki kepentingan apa pun atas surat-surat elektronik yang dibocorkan oleh para peretas.

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Italia Corriere Della Sera, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menekankan mengenai tidak adanya bukti terkait upaya Moskow untuk mencampuri proses pemilu AS.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.