AS Hancurkan Infrastruktur di Suriah, tapi Tak Serang Kilang Minyak ISIS

AS telah membombardir Suriah sejak 2012 tapi tak pernah menyerang fasilitas minyak ISIS.

AS telah membombardir Suriah sejak 2012 tapi tak pernah menyerang fasilitas minyak ISIS.

Reuters
Serangan terhadap infrastruktur Suriah bertujuan melemahkan pemerintah.

Koalisi internasional AS telah membombardir infrastruktur di Suriah sejak 2012, tapi mereka tak pernah menyerang fasilitas perminyakan ISIS, demikian disampaikan Juru Bicara Kementerian Pertahanan Rusia Mayjen Igor Konashenkov, Rabu (4/1), seperti dilaporkanSputnik.

Menurut Konashenkov, CIA sadar bahwa jauh sebelum Rusia memulai operasi militer, koalisi internasional AS telah menghancurkan infrastruktur ekonomi Suriah secara sistematis guna melemahkan pemerintah Suriah dan mengabaikan nasib jutaan warga sipil yang harus menjadi pengungsi.

Pernyataan dari Kementerian Pertahanan Rusia tersebut muncul setelah Direktur CIA John Brennan menuduh Moskow 'membumihanguskan' Suriah.

"Namun, anehnya koalisi AS tak pernah menyerang fasilitas kilang minyak yang direbut ISIS. Hal itu memudahkan para teroris meraup puluhan juta dolar tiap bulan lewat perdagangan minyak ilegal, yang uangnya digunakan untuk merekrut tentara bayaran dari seluruh dunia," tambah Konashenkov.

"Cepat atau lambat seseorang harus bertanggung jawab atas hal tersebut. Upaya Brennan untuk meredam informasi ini tak akan membantu. Brennan sadar betul akibat nyata dari aksi Rusia di Suriah," terang Konashenkov.

Pasukan Kedirgantaraan Rusia telah membantu membebaskan lebih dari 12 ribu kilometer persegi tanah Suriah dan 499 permukiman, serta menumpas 35 ribu milisi, termasuk 204 orang yang berjabatan komandan.

Para pihak yang bertempur di Suriah juga telah menandatangani kesepakatan gencatan senjata, tanpa melibatkan pemerintah AS maupun CIA.

Washington dan Moskow sama-sama melakukan operasi militer melawan terorisme di Suriah. Koalisi internasional AS yang terdiri dari lebih dari 60 anggota telah menyerang ISIS di Irak dan Suriah sejak Agustus dan September 2014. Sementara, Rusia memulai operasi sejak September 2015 atas permintaan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Rusia telah memediasi beberapa gencatan senjata, yang terbaru pada akhir Desember lalu dan diharapkan akan diikuti dengan pembicaraan damai antara pemerintah Suriah dan kelompok oposisi moderat.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.