Koalisi AS Mengaku Tewaskan Ratusan Warga Sipil di Suriah dan Irak

Pesawat F/A-18E Super Hornet lepas landas dari kapal induk Dwight D. Eisenhower CVN 69 di Teluk Persia menuju Mosul, Irak, untuk memberikan dukungan udara.

Pesawat F/A-18E Super Hornet lepas landas dari kapal induk Dwight D. Eisenhower CVN 69 di Teluk Persia menuju Mosul, Irak, untuk memberikan dukungan udara.

Reuters
Mayoritas korban sipil sempat tidak diakui karena dianggap berasal dari laporan yang "tidak kredibel".

Koalisi AS mengaku "tidak sengaja" menewaskan setidaknya 188 warga sipil di Suriah dan Irak sejak 2014 saat serangan udara melawan ISIS dimulai. Mayoritas korban sipil sempat tidak diakui karena laporannya "tidak kredibel", demikian dikabarkanRT, Senin (2/1).

"Hingga saat ini, berdasarkan informasi yang tersedia, setidaknya 188 warga sipil secara tidak sengaja terbunuh oleh serangan koalisi AS sejak dimulainya Operasi Inherent Resolve," terang Satuan Tugas Gabungan Kombinasi AS Operasi Inherent Resolve (CJRF-OIR), Senin (2/1), dalam laporan bulanan terkait korban sipil dari serangan udara koalisi AS.

"CJRF-OIR menyesalkan hilangnya nyawa warga sipil secara tidak sengaja akibat upaya koalisi mengalahkan ISIS di Irak dan Suriah, serta mengungkapkan simpati kami sedalam-dalamnya bagi keluarga dan semua pihak yang terkena imbas dari serangan-serangan tersebut."

Pihak satgas menegaskan bahwa koalisi AS telah menyusun upaya khusus untuk meminimalisasi jatuhnya korban sipil saat menyerang target militer, tapi dalam beberapa insiden tewasnya para korban tak dapat dihindari.

Tim koalisi menerima 16 laporan baru dan meninjau tujuh laporan yang sebelumnya telah diterima mengenai kemungkinan jatuhnya korban sipil sepanjang November 2016. Namun, menurut pihak koalisi hanya lima dari laporan tersebut yang dianggap kredibel dan membuktikan bahwa serangan udara secara tak sengaja membunuh 15 warga sipil. Sementara, pejabat militer AS menyebut 13 laporan lain di antaranya 'tak kredibel' dan lima laporan masih dalam proses penilaian.

Mayoritas laporan yang ditetapkan 'tidak kredibel' menunjukkan kurangnya ketersediaan intelijen dari pihak koalisi AS dan menurut mantan pejabat Pentagon Michael Maloof hal tersebut menimbulkan kekhawatiran.

"AS sebaiknya terus memeriksa ulang laporan yang masuk untuk memastikan bahwa tak ada warga sipil yang terluka. Namun, melihat kenyataan di lapangan, demikianlah kasusnya," kata Maloof kepada RT.

"Saat mereka berbicara tentang sumber yang tidak kredibel, pada dasarnya hal itu menunjukkan mereka tak memiliki cukup informasi untuk menentukan apakah ada lebih banyak warga sipil yang tewas. Artinya, AS tak punya intelijen di lapangan dan mereka seharusnya tak mengebom wilayah yang tak diawasi intelijen di lapangan."

Para pejabat kini masih menyelidiki serangan pada 29 Desember yang menyasar sebuah mobil van milik milisi ISIS.

"Van tersebut menabrak bangunan yang kemudian diketahui merupakan sebuah komplek parkir rumah sakit sehingga menciptakan risiko jatuhnya korban sipil," terang satgas khusus tersebut.

Menurut militer AS, hingga akhir Desember lalu koalisi AS telah melancarkan lebih dari 17 ribu serangan melawan ISIS. Lebih dari 10 ribu serangan dikerahkan di Irak, sementara sekitar enam ribu serangan dilakukan di Suriah.

Operasi antiteror darat di Irak dan Suriah kerap memakan korban sipil. Amnesti Internasional yang menyebutkan setidaknya 300 orang tewas pada sebelas serangan yang diselidiki.

Koalisi AS terdiri dari 60 negara yang mulai melakukan operasi udara melawan ISIS di Suriah dan Irak sejak 2014 tanpa izin dari pemerintah resmi Suriah ataupun Dewan Keamanan PBB.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.