Trump Bicarakan Nuklir, Rusia Tak Akan Ubah Strategi Keamanan

Presiden terpilih AS Donald Trump menulis dalam akun Twitter-nya bahwa AS perlu “benar-benar memperkuat dan memperluas kapabilitas nuklir hingga membuat seluruh dunia sadar akan isu nuklir.”

Presiden terpilih AS Donald Trump menulis dalam akun Twitter-nya bahwa AS perlu “benar-benar memperkuat dan memperluas kapabilitas nuklir hingga membuat seluruh dunia sadar akan isu nuklir.”

Anton Denisov/RIA Novosti
Rusia tak akan terseret kembali dalam perlombaan senjata Perang Dingin.

Reaksi yang ditunjukkan Kremlin terkait usulan Presiden terpilih AS Donald Trump yang menyatakan bahwa AS perlu meningkatkan kemampuan senjata nuklirnya membuktikan bahwa dalam kenyataan militer kontemporer dan ekonomi, Rusia tidak akan mengubah strategi pertahanannya, demikian disampaikan perusahaan intelijen AS Stratfor, seperti dilaporkan Sputnik, Minggu (1/1).

Pada akhir Desember lalu, Trump menulis dalam akun Twitter-nya bahwa AS perlu “benar-benar memperkuat dan memperluas kapabilitas nuklir hingga membuat seluruh dunia sadar akan isu nuklir.”

“Terkait presiden terpilih AS Donald Trump (serta komentarnya mengenai peningkatan senjata nuklir), bukanlah hal baru. Selama kampanye pemilu, ia sudah membicarakan pentingnya memperkuat kapabilitas nuklir dan tentara AS, sehingga pernyataan tersebut tak mengejutkan,” kata Presiden Rusia Vladimir Putin dalam konferensi pers akhir tahun yang digelar pada Desember lalu.

Trump berkomentar setelah Presiden AS Barack Obama menandatangani anggaran belanja pertahanan sebesar 618,7 miliar dolar AS (sekitar 8.300 trilun rupiah).

Beberapa tahun terakhir, AS dan Rusia telah merogoh kocek cukup dalam untuk berinvestasi membangun kapabilitas pertahanan mereka.

Washinton mengambil langkah untuk memperkuat pasukan NATO di sepanjang sisi Eropa Timur. AS meluncurkan sistem misil pertahanan di Rumania pada Mei lalu serta berencana memperluas rotasi tentara NATO tahun depan. Negara tersebut juga menyusun rancangan anggaran sebesar 350 miliar dolar AS (sekitar 4.700 triliun rupiah) untuk meningkatkan seluruh komponen senjata nuklirnya.

Menanggapi peningkatan kekuatan militer NATO, Rusia menempatkan tank angkatan darat di sepanjang perbatasan barat negaranya.

Pada November lalu, Moskow mengumumkan akan menempatkan sistem misil S-400 Triumf dan misil Iskander di wilayah Kaliningrad.

“Rusia berupaya untuk membentuk keunggulan strategisnya dalam kenyataan saat ini dan tidak mengulang kesalahan yang dilakukan pada masa Perang Dingin. Perang proksi global memainkan peran signifikan dalam perhitungan Perang Dingin Moskow, tapi taktiknya saat ini lebih fokus untuk memperjuangkan negara-negara yang lebih dekat. NATO tetap menjadi perhatian utama, itu terlihat dari langkah-langkah yang diambil Moskow selama ini untuk menopang posisi militer mereka. Namun, Rusia hanya mampu berjalan sejauh itu untuk mendesak Barat,” terang laporan tersebut.

Tahun ini, Moskow berencana meningkatkan anggaran militer menjadi 60 miliar dolar (sekitar 800 triliun rupiah), sementara anggaran militer AS mencapai lebih dari sepuluh kali. “Namun, keputusan Rusia untuk merahasiakan sebagian anggaran federal tahun 2017 mereka berarti jumlah pasti yang dihabiskan Rusia untuk pertahanan tidak diketahui,” gterang laporan tersebut.

Sang penulis laporan menyatakan bahwa merahasiakan bagian dari anggaran memungkinkan Kremlin untuk lebih fleksibel dalam mengalokasikan dana tambahan di industri pertahanan tanpa mendapat tekanan sosial di tengah krisis ekonomi.

Meski demikian, perubahan anggaran Rusia masih belum mampu mendukung Kremlin untuk ikut serta dalam perlombaan senjata yang membatasi tahun-tahun terakhir Perang Dingin serta membuat bangkrut Uni Soviet.

Menurut Stratfor, Kremin masih mengenang “peninggalan” Uni Soviet saat membuat keputusan dalam bidang pertahanan.

“Sikap Rusia yang lebih moderat bukan berarti mereka akan menarik rencana pertahanannya, melainkan Kremlin tidak ingin mengulang sejarah borosnya anggaran militer yang membantu mempercepat kejatuhan Uni Soviet.”

Stratfor menilai reaksi hati-hati Kremlin juga mengindikasikan bahwa Rusia melihat datangnya kesempatan baru dalam politik global di tahun 2017, seperti menajamnya perbedaan di kalangan negara-negara Uni Eropa serta mulai terganggunya kebulatan suara Eropa, terutama terkait sanksi anti-Rusia.

Selebihnya, Kremlin berharap setelah pelantikan Trump AS dan Rusia dapat memulai dialog untuk mengurangi tekanan bilateral.

“Jadi, Rusia akan mempertahankan posisi strategisnya terhadap AS dan sekutunya saat mencoba untuk memastikan bahwa tekanan di antara mereka dapat diatasi,” tulis Stratfor.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.