Rusia dan Turki Serang ISIS di Suriah Utara, Tewaskan 22 Teroris

Seorang pilot Su-34 Rusia di Pangkalan Udara Hmeimim, Suriah.

Seorang pilot Su-34 Rusia di Pangkalan Udara Hmeimim, Suriah.

RIA Novosti/Dmitry Vinogradov
Pada Agustus lalu, Turki juga menggelar serangan serupa di perbatasannya.

Angkatan Udara Rusia dan Turki melancarkan sejumlah serangan terhadap ISIS di wilayah Dayr Kak yang berlokasi di sekitar kota al-Bab yang diduduki ISIS di Suriah utara, demikian dilaporkan surat kabar Daily Sabah mengutip pejabat militer Turki, tulisSputnik, Senin (2/1).

Berdasarkan laporan tersebut, 22 teroris ISIS tewas dalam serangan yang digelar pasukan Rusia-Turki.

Serangan terhadap ISIS di wilayah perbatasan Suriah-Turki sebelumnya pernah dilancarkan pada Agustus 2016 lalu. Pasukan Turki dibantu pesawat koalisi pimpinan AS memulai sebuah operasi militer yang disebut Perisai Eufrat untuk membersihkan kota perbatasan Suriah, Jarabulus, serta wilayah sekitar yang dikuasai ISIS.

Setelah mengambil-alih Jarabulus, pasukan melanjutkan serangan ke arah barat daya. Operasi tersebut menuai kritik dari suku Kurdi Suriah dan pemerintah resmi Suriah, yang menuduh Turki melanggar integritas wilayah Suriah.

Keterlibatan AS

Sebelumnya, pihak Turki mengaku memiliki bukti tak terbantahkan atas dukungan koalisi Barat pimpinan AS terhadap kelompok teroris, termasuk kelompok ekstrimis ISIS, kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan.

"Amerika memberikan dukungan kepada kelompok teroris, termasuk ISIS, Unit Perlindungan Masyarakat Kurdi (YPG), dan Partai Uni Demokratik (PYD). Ini sangat jelas. Kami punya bukti yang telah dikonfirmasi, lengkap dengan gambar, foto, serta video," demikian disiarkan Iran Press TV, mengutip perkataan Erdoğan dalam sebuah konferensi pers, Selasa (27/12).

Pengumuman Erdoğan tersebut disampaikan hanya selang sehari setelah mantan capres dari Partai Hijau AS Jill Stein menuding Washington telah mendukung kelompok teroris selama mereka melayani kepentingannya.

Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Mark Toner membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai 'tuduhan tak berdasar'.

Ketika mengambil atau mengutip segala materi dari Russia Beyond, mohon masukkan tautan ke artikel asli.