AS Kembali Jatuhkan Sanksi Terhadap Rusia Atas Dugaan Serangan Siber

"Tindakan ini bukanlah respons final kami atas aktivitas agresif Rusia," kata Obama.

"Tindakan ini bukanlah respons final kami atas aktivitas agresif Rusia," kata Obama.

Reuters
Selain itu, AS juga telah mengusir 35 diplomat Rusia.

Presiden Barack Obama telah mengeluarkan sanksi baru terhadap individu dan lembaga Rusia atas tuduhan intervensi dan peretasan menjelang pilpres AS, demikian hal itu dilaporkanRT.

Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi baru terhadap lima lembaga dan empat individu pada Kamis (29/12) sore. 

Dalam perintah eksekutif yang ditandatangani presiden AS pada Rabu (28/12) malam, Obama mengatakan bahwa ia mengambil "langkah-langkah tambahan untuk menangani situasi darurat nasional sehubungan dengan akivitas siber yang berbahaya, yaitu terkait meningkatnya aktivitas semacam itu yang bertujuan untuk merusak proses demokrasi atau lembaga,"

Lima lembaga tersebut adalah: Asosiasi Profesional Perancang Sistem Pengolahan Data, sebuah organisasi nonkomersial independen; Dinas Keamanan Federal (Federalnaya Sluzhba Bezopasnosti atau FSB); GRU (Glavnoe Razedyvatelnoe Upravelenie atau GRU); Pusat Teknologi Khusus; dan Zorsecurity, yang sebelumnya dikenal sebagai Esage Lab atau Tsor Security.

Sementara, keempat orang yang dikenakan sanksi, yaitu Vladimir Stepanovich Alexseyev, wakil kepala I GRU; Sergey Gizunov, wakil kepala GRU; Igor Korobov, kepala GRU; dan Igor Kostyukov, wakil kepala I GRU. Departemen Keuangan juga menambahkan dua orang lainnya, Aleksey Alekseyevich Belan dan Evgeniy Mikhailovich Bogachev, ke dalam daftar Specially Designated Nationals and Blocked Persons (SDN) "atas aktivitas siber yang berbahaya."

Selain itu, sebagai respons atas pelecehan diplomat AS di Moskow, AS juga telah mengusir 35 diplomat Rusia. Gedung Putih memberikan waktu 72 jam bagi mereka untuk meninggalkan AS.

"Tindakan ini bukanlah respons final kami atas aktivitas agresif Rusia," kata Obama mengingatkan seraya menambahkan bahwa AS masih memiliki sejumlah alat yang dapat digunakan "pada waktu dan tempat yang mereka akan mereka tentukan, dan beberapa tidak akan dipublikasikan."

Sebelumnya, Juru Bicara Kepresidenan AS Josh Earnest menuduh presiden AS terpilih Donald Trump dan anggota utama timnya memiliki hubungan “yang menguntungkan” dengan Rusia, menyebut bahwa penasihat keamanan nasional Trump yang dulu merupakan “kontributor berbayar” media Rusia RT.

Sang sekretaris pers Gedung Putih menghubungkan “aktivitas siber Rusia yang jahat” dengan para pejabat utama kampanye dan masa lalunya dalam pengarahan harian di Gedung Putih.

Earnest menyebutkan bahwa sebagai calon presiden dari partai Republik, Trump “mengambil keuntungan” dari serangan siber yang dialami rivalnya Hillary Clinton, sementara kampanye Trump tidak melakukan upaya apa pun untuk menghalangi hal ini. Ia secara langsung menuduh Trump pura-pura tidak menyadari upaya Rusia untuk mengacaukan sistem politik AS, bahkan malah menyuruh Moskow menyerang Clinton.

Partai Demokrat telah mencurigai Trump sejak bocornya email Partai Demokrat pada bulan Juli lalu yang mengekspos bias terhadap kandidat calon presiden partai tersebut Bernie Sanders selama pemilihan bakal capres Partai Demokrat. Pendukung Clinton menduga bahwa serangan siber itu didalangi Rusia untuk membantu kemenangan Trump dan mereka telah meminta Direktur FBI James Comey untuk menginvestigasi hubungan antara Trump dan Rusia terkait kebocoran informasi tersebut.

Sejak Oktober, Gedung Putih telah menuduh Rusia melakukan serangan siber terhadap Hillary Clinton dan Komite Nasional Demokrat (DNC) untuk mengintervensi pemilihan presiden AS.

Minggu lalu, seorang narasumber mengatakan kepada Washington Post bahwa CIA menyimpulkan intelijen Rusia meretas server partai Demokrat dan para petingginya untuk membantu Trump merebut kursi jabatan presiden.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.