Analis: Trump Perlu Bantuan Putin untuk Arahkan Kebijakan Timur Tengah

Menurut pakar, Presiden terpilih AS Donald Trump membutuhkan bantuan Presiden Rusia Vladimir Putin untukmemberikan arahan.

Menurut pakar, Presiden terpilih AS Donald Trump membutuhkan bantuan Presiden Rusia Vladimir Putin untukmemberikan arahan.

AP
Meski demikian, pakar melihat Trump cukup sulit diatur.

Presiden terpilih AS Donald Trump membutuhkan bantuan arahan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menyelesaikan kerumitan perjuangan melawan ISIS dan kebijakan Timur Tengah lainnya, demikian disampaikan seorang analis politik Dan Lazare kepada Sputnik, Rabu (28/12).

“Mungkin Putin dapat membantu dan membimbing Trump setelah pelantikan," kata seorang analis Timur Tengah dan pengamat politik Dan Lazare, Selasa (27/12).

Meski demikian, Lazare tak yakin tindakan tersebut akan berhasil. “Trump cukup sulit untuk diatur, sehingga saya meragukannya. Tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukan Trump, selain Trump sendiri,” kata Lazare.

Lazare juga mengklaim Trump meluapkan opini dan sikapnya, tapi yang masih menjadi pertanyaan adalah apakah Trump akan merealisasikannya. Trump memiliki beberapa pandangan yang jelas, baik pandangan yang baik maupun buruk terhadap pemimpin negara lain, tapi Trump belum memikirkan bagaimana pandangan tersebut dituangkan dalam kebijakan, apakah akan saling berinteraksi atau justru memicu konflik satu sama lain.

Trump “secara mendalam mendukung Israel dan anti-Iran,” ujar Lazare. Sang presiden terpilih mengagumi Putin, tapi menganggap Presiden Suriah Bashar Assad adalah “orang jahat.”

Trump mungkin menyadarai bahwa Rusia, Iran, dan pemerintah Suriah berada di pihak yang sama melawan ISIS dan al-Qaeda, tapi tidak ada yang benar-benar mengetahui tingkat pemahaman Trump akan kompleksitas hubungan mereka.

Sependapat dengan Lazare, Direktur Kebijakan di Just Foreign Policy Robert Naiman menyatakan bahwa kebijakan Timur Tengah terakhir Trump masih diselimuti ketidakpastian.

“Siapa yang tahu apa yang benar-benar akan dilakukan Trump?” tanya Naiman.

Meski demikian, Naiman memprediksi negara-negara lain dalam PBB akan menyambut AS yang menarik diri dari organisasi dunia dan banyak masyarakat Amerika Serikat menentang intervensi global yang dilakukan pemerintah mereka, begitu pula pasukan bersenjata.

“Hari ketika AS menarik diri dari PBB akan menjadi hari yang dirayakan besar-besaran oleh semua pihak yang menantang kerajaan AS di dunia. Kita akan menggelar pesta jalanan terbesar yang pernah ada,” kata Naiman.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.