Jurnalis Jerman Kritik Laporan Media Barat Mengenai Konflik Suriah

Militan-militan bersenjata Suriah di sebuah kamp pengungsi di Rasyidin, dekat Idlib, Suriah. Mereka dievakuasi dari Aleppo selama gencatan senjata, 20 Desember 2016.

Militan-militan bersenjata Suriah di sebuah kamp pengungsi di Rasyidin, dekat Idlib, Suriah. Mereka dievakuasi dari Aleppo selama gencatan senjata, 20 Desember 2016.

AP
Semakin banyak pihak yang mulai menyadari bahwa liputan media Barat mengenai konflik Suriah dan pembebasan Aleppo terbilang bias, selektif, dan memihak, salah satunya reporter media internasional asal Jerman Deutsche Welle Matthias von Hein.

Dalam analisis terbaru terkait isu ini, sang jurnalis, seperti dilaporkanSputnik, Rabu (28/12), meminta evaluasi atas apa yang benar-benar terjadi di Suriah. Menurut von Hein, liputan yang selektif dan berpihak itu jelas bertujuan menempatkan Moskow, Teheran, dan Damaskus 'di sisi gelap'. Ia bahkan menilai 'kebenaran selalu menjadi korban pertama dalam perang'.

“Dalam serangan di Aleppo, layar (televisi) kita hampir secara khusus hanya menampilkan serangan udara oleh pasukan udara Suriah dan Rusia terhadap wilayah pemukiman di Aleppo. Terdapat ilustrasi panjang mengenai barbarisme yang ada di balik ini, sinisme terhadap Assad dan para pendukungnya, keinginan mereka yang benar-benar berjalan melangkahi mayat. Situasi kemanusiaan yang mengkhawatirkan di kota terkepung ini terus-menerus ditekankan,” kata von Hein.

Meski demikian, von Hein bertanya-tanya di mana informasi yang menunjukkan para pemberontak berakting dengan sinis? Dan lebih lanjut diketahui bahwa “mereka menyiksa orang-orang untuk menjadikan mereka sebagai perisai; mereka berkali-kali mencegah penduduk Aleppo Timur untuk pergi ke bagian barat wilayah tersebut; dan mereka juga menembakan roket dan mortir ke wilayah bagian barat tanpa mempertimbangkan populasi warga sipil.”

Menurut von Hein, hukum Syariah telah diberlakukan di banyak tempat, para perempuan di sana hanya diizinkan keluar rumah dengan memakai kerudung.

“Perbedaan mendasar antara hukum Syariah ini dengan ISIS adalah bahwa ISIS ingin memberlakukan sistem kalifah di seluruh dunia. Para ekstremis Suriah, untuk saat ini, sudah puas dengan yang terjadi di Suriah,” terang von Hein.

Media Barat ‘Tutup Mata’

Hal senada juga disampaikan seorang penulis terkemuka yang juga profesor Ekonomi Politik di Universitas Sydney, Tim Anderson. Anderson menyatakan bahwa ada “badai kekeliruan informasi yang ditiupkan media Barat (klaim mengenai pembunuhan massal, eksekusi massal, dan ‘target warga sipil’) mengenai evakuasi sekitar 100 ribu warga sipil dan ribuan teroris.”

“Para reporter di lapangan menyampaikan cerita yang berbeda,” tulisnya dalam sebuah artikel di media independen OffGuardian.

“Saat pasukan Suriah menghancurkan barisan al-Qaeda, warga sipil yang terjebak mulai keluar. Mereka memublikasikan video barisan panjang orang-orang yang meninggalkan Aleppo Timur dan merasa lega, makanan dan tempat berlindung dengan Tentara Arab Suriah. Lelah dan lega, mereka menyampaikan ceritanya kepada siapa pun yang bersedia mendengarkan. Rusia dan Iran memberikan bantuan puluhan ton makanan, pakaian, selimut, dan tempat berlindung. Sebaliknya, negara-negara Barat pada umumnya tidak memberikan apa-apa dan kelompok teroris menolak seluruh bantuan dari sekutu Suriah.”

“Warga sipil dilarang meninggalkan wilayah al-Qaeda, banyak yang ditembak mati saat mereka berusaha pergi. Kelompok bersenjata memiliki cadangan makanan, tapi menyimpannya untuk para pejuang mereka. Pabrik-pabrik senjata termasuk yang menyimpan zat kimia beracun telah ditemukan dan dinetralisasi. Beberapa anggota kelompok bersenjata dipenjara, tapi sebagian besar dikirim ke Idlib, sementara Damaskus fokus pada pejuang yang dibantu negara asing,” tulis Profesor Anderson.

“Saat meriam sudah terdiam, dan tak ada lagi mortir rumahan yang membombardir jantung kota, para warga gembira dan menari-nari di jalanan, dan itu tersebar luas di media sosial. Juru bicara Departemen Luar Neger AS mengklaim ia belum melihat ini,” lanjut Anderson.

Kekeliruan AS

Sementara, von Hein kembali mengingatkan apa yang dikatakan oleh pejabat tingkat tinggi AS mengenai kelompok pemberontak 'moderat'. Ia mengacu pada pidato Wakil Presiden AS Joe Biden di Harvard pada Oktober 2014.

"Biden yangfrustasi, tak hanya menjelaskan bahwa tak ada kelompok moderat di Suriah. Sang wapres juga terang-terangan mengeluhkan bahwa sekutu AS, Turki dan Arab Saudi, juga menjadi masalah terbesar di Suriah,” ujar von Hein.

“Biden menjelaskan bahwa kedua negara tersebut terobsesi untuk menggulingkan Assad. Menurut Biden, Turki dan Arab Saudi telah mendistribusikan jutaan dolar dan ribuan ton senjata kepada siapa pun yang mau melawan Assad. Masalahnya, lawan-lawan ini merupakan al-Nusra, yang berasal dari al-Qaeda, dan kelompok ekstremis dari negara lain.”

Pada 2012, sang penulis mengatakan bahwa Badan Intelijen Pertahanan Militer AS (CIA) menyebut dalam sebuah analisis bahwa protes yang awalnya damai dan demokratis di Suriah kini didominasi oleh kelompok ekstremis.

“Analisis tersebut sudah menjadi peringatan akan munculnya negara Salafiyah. Dua tahun kemudian, pada 2014, ISIS mengumumkan hal itu.”

Menyimpulkan analisis di atas, Matthias von Hein mendorong “skeptisme, di atas segalanya, dan sebuah upaya jujur untuk memberikan gambaran komprehensif.”

Menurut von Hein, tentu saja media harus menunjukkan kekejaman perang, termasuk perang, penderitaan, dan kematian di Aleppo Timur. “Tapi jika mereka serius dalam memberikan informasi, informasi tersebut sebaiknya tidak memihak,” kata von Hein. "Jika tidak, presentasi yang selektif adalah propaganda,” tutup von Heim.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.