Ratusan Siswa Padati ‘Sekolah Luar Angkasa’ di Sochi

Lebih dari 120 siswa dari berbagai kota di Rusia sengaja datang ke Sochi untuk mengikuti program 'Sekolah Luar Angkasa'.

Lebih dari 120 siswa dari berbagai kota di Rusia sengaja datang ke Sochi untuk mengikuti program 'Sekolah Luar Angkasa'.

EPA/Vostok Photo
Di sekolah ini, mereka dapat beraksi selayaknya kosmonot sungguhan.

Hari peringatan penerbangan kosmonot legendaris asal Rusia Yuri Gagarin ke luar angkasa dirayakan secara meriah di Komplek Kebugaran ‘Sputnik’ di Sochi. Dalam rangkaian acara yang berlangsung pada 18 – 22 Desember ini, program khusus ‘Sekolah Luar Angkasa’ menarik paling banyak perhatian pengunjung.

Lebih dari 120 siswa dari berbagai kota di Rusia sengaja datang ke Sochi untuk mengikuti program khusus pelatihan kosmonot dengan menggunakan teknologi informasi dan pendidikan modern. Di sini, mereka akan beraksi layaknya kosmonot sungguhan dengan bantuan kompleks multimedia dan simulator wahana antariksa Soyuz-TMA khusus yang akan membawa mereka ke luar angkasa secara virtual.

Di samping program ‘Sekolah Luar Angkasa’, pembukaan Taman Tekno turut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan ini. Selain itu, para siswa juga mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan kosmonot dan pilot militer.

Program ‘Sekolah Luar Angkasa’

Pada program ‘Sekolah Luar Angkasa’, para siswa diajak berkenalan dengan para staf dari Pusat Pelatihan Kosmonot dan berkesempatan untuk mempelajari sejarah, serta mengeksplorasi luar angkasa. Mereka belajar mengenai persyaratan kesehatan bagi kosmonot masa depan serta mengenai beragam perangkat di stasiun luar angkasa. Selain itu, mereka juga mempelajari apa yang harus dilakukan seorang kosmonot setelah pendaratannya kembali ke muka Bumi.

Seorang peserta Daniil Voitenkov menceritakan mimpinya untuk dapat terbang ke luar angkasa.

"Banyak orang berpikir bahwa untuk menjadi kosmonot sangatlah sulit, bahkan hampir tidak mungkin. Namun, saya pribadi optimis bahwa suatu hari nanti saya dapat terbang ke luar angkasa," tutur Daniil, seperti yang dikutip oleh TASS.

Daniil adalah seorang siswa kelas IX yang berasal dari pinggir Moskovskaya Oblast, Lobnya. Ia mengaku senang mempelajari ilmu Fisika, selain itu, ia juga terlibat dengan berbagai macam kegiatan olahraga. Kegiatan di ‘Sekolah Luar Angkasa’ semakin memperkuat keinginannya untuk menjadi pilot penguji.

"Setelah menyelesaikan sekolah, saya akan mencoba mendaftar di sekolah penerbangan. Selama ini saya dapat mengerjakan soal Matematika dengan cukup baik," tutur Daniil optimis.

Pada gilirannya, salah satu siswi di ‘Sekolah Luar Angkasa’ Zalina Aslyamova yang berasal dari Bashkiria mengaku bahwa ia sesungguhnya tidak bermimpi untuk dapat terbang ke luar angkasa. Menurutnya, profesi kosmonot bukanlah profesi yang mudah bagi perempuan. Dibutuhkan perjalanan panjang untuk mencapai hal itu.

"Saya suka mempelajari berbagai bahasa asing. Sepertinya saya tidak akan terbang ke luar angkasa, tetapi saya ingin membantu para kosmonot lainnya yang berasal dari berbagai negara untuk saling memahami satu sama lain. Karena luar angkasa bukanlah milik negara tertentu. Karena itu, bahasa yang seharusnya digunakan oleh para kosmonot ini tentu saja adalah bahasa luar angkasa," tuturnya percaya diri.

Penggagas program Oleg Zakharov mengakui bahwa ‘Sekolah Luar Angkasa’ tidak bermaksud menjadikan seluruh siswa didiknya menjadi kosmonot.

"Tidak ada tujuan seperti itu, bagi kami yang utama adalah membuat anak-anak tertarik dengan tema luar angkasa, serta menunjukkan bagaimana ilmu astronomi modern berada di persimpangan banyak ilmu, yang pengaplikasiannya dapat ditemukan pada profesi insyinyur, pemrogram, dokter, dan ahli biologi," kata Oleg Zakharov.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.