Jurnalis: Media Mainstream Buat Berita Palsu untuk Mengacaukan Suriah

Seorang anak di atas reruntuhan atap sekolah di Azaz, barat laut Suriah.

Seorang anak di atas reruntuhan atap sekolah di Azaz, barat laut Suriah.

Alla Shadrova, Spike Rogers
Peperangan Barat melawan kelompok ekstremis tak lain adalah sebuah lelucon, kata seorang jurnalis yang diwawancarai Sputnik.

Pendekatan bias media-media mainstream dalam meliput situasi di Aleppo jelas bertujuan untuk memperkeruh Suriah dan mengacaukan tujuan Iran dan Rusia, kata Sebastiano Caputo, seorang jurnalis, kepada Sputnik Italia, Selasa (20/12).

Arus informasi yang dimanipulasi (mengenai peristiwa di Aleppo) sangat tak terbendung, terang Caputo. Sementara, jurnalis dari media-media mainstream lebih memilih untuk fokus menyalin berita yang disiarkan stasiun televisi Al-Arabiya dan Al-Jazeera, yang masing-masing dikuasai Arab Saudi dan Qatar, daripada pergi dan melihat langsung apa yang sesungguhnya terjadi di Suriah.

"Jurnalis dari media-media mainstream lebih memilih untuk fokus menyalin berita yang disiarkan stasiun televisi Al-Arabiya dan Al-Jazeera." — Sebastiano Caputo
Mereka ini, menurut Caputo, adalah negara-negara yang telah mengotori tangannya dengan darah selama lebih dari lima tahun, serta tidak memiliki keinginan untuk memberikan informasi yang objektif.

“Tujuan pemberitaan mereka adalah mencoba untuk mengacaukan Suriah dan memberikan pukulan kepada Iran dan Rusia karena Arab Saudi dan Qatar merupakan sekutu AS di Timur Tengah. Dalam meliput situasi di Aleppo, jurnalis Barat menggunakan, antara lain, narasumber anonim dan akun Twitter palsu. Media Barat bersikap munafik, dan mereka hanya menunjukkan warga yang diduga dibunuh oleh satu-satunya pihak dalam konflik,” kata Caputo.

"Di tengah-tengah spekulasi yang berkepanjangan seputar peperangan melawan teroris, kita dapat melihat bahwa peperangan Barat melawan kelompok ekstremis tidak lain adalah sebuah lelucon,” terang Caputo.

“Hanya ada tiga tentara (yang berjuang): Suriah, Iran, dan Rusia. Ketiga negara ini terus melawan teroris yang kini mengalami kekalahan,” tambahnya.

"Dalam meliput situasi di Aleppo, jurnalis Barat menggunakan, antara lain, narasumber anonim dan akun Twitter palsu." — Sebastiano Caputo​
Caputo kembali mengingatkan bahwa kelompok yang disebut militan Suriah adalah kelompok radikal dan tentara bayaran yang “tidak mau direkam selama evakuasi karena mereka tidak terlihat seperti orang Suriah.”

“Mereka adalah orang-orang yang berasal dari Georgia, Chechnya, Afganistan, dan Pakistan,” kata Caputo yang merupakan penulis buku “At the Damascus Gate”.

Minggu lalu, Tentara Suriah secara resmi mengumumkan kemenangan mereka di Aleppo. Pertempuran Aleppo berlangsung lebih dari empat tahun sejak 19 Juli 2012. 

Dalam beberapa bulan terakhir, Aleppo telah menjadi medan pertempuran yang paling penting di Suriah. Pertempuran ini melibatkan antara pasukan pemerintah dan sejumlah oposisi serta kelompok-kelompok ekstremis.

Selama tiga minggu terakhir, tentara Suriah telah membebaskan lebih dari 98 persen wilayah Aleppo timur yang telah diduduki kelompok teroris sejak 2012. Sebanyak 100 ribu penduduk dari kota itu pun berhasil dibebaskan.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.