Tertangkap Hendak Gabung ISIS, Mahasiswi Rusia Dihukum 4,5 Tahun Penjara

Pengadilan Militer Distrik Moskow menjatuhkan hukuman 4,5 tahun penjara untuk mantan mahasiswa Universitas Negeri Moskow Varvara Karaulova (Alexandra Ivanova) yang terbukti bersalah dalam upaya bergabung dengan kelompok teroris ISIS.

Pengadilan Militer Distrik Moskow menjatuhkan hukuman 4,5 tahun penjara untuk mantan mahasiswa Universitas Negeri Moskow Varvara Karaulova (Alexandra Ivanova) yang terbukti bersalah dalam upaya bergabung dengan kelompok teroris ISIS.

Kirill Kallinikov/RIA Novosti
Ia mengaku jatuh cinta terhadap perekrutnya, yang merupakan dokter ISIS.

Pengadilan Militer Distrik Moskow menjatuhkan hukuman 4,5 tahun penjara untuk pada mahasiswi Universitas Negeri Moskow Varvara Karaulova alias Alexandra Ivanova yang terbukti bersalah karena hendak bergabung dengan kelompok teroris ISIS, demikian dilaporkan koresponden TASS, Kamis (22/12).

"Pengadilan menetapkan Karaulova bersalah dan ia dihukum 4 tahun 6 bulan kurungan penjara," kata Hakim Alexander Ababkov mengumumkan, seperti dilaporkan TASS.

Pengacara Karaulova Sergei Badamshin menyatakan akan mengajukan banding atas penetapan tersebut.

Kisah Karaulova berawal sejak 27 Mei tahun lalu, ketika ia mengaku hendak pergi ke kampus pada orangtuanya, tapi ternyata malah diam-diam terbang ke Istanbul, Turki. Pada 4 Juni, Interpol cabang Tukri menangkap Karaulova dan 12 orang Rusia lainnya saat mereka hendak melewati perbatasan selatan Turki-Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Karaulova segera diterbangkan kembali ke Rusia pada 12 Juni 2015.

Pada 28 Oktober 2015, Karaulova ditahan atas dugaan terkait dengan jaringan kelompok teroris ISIS. Tuntutan resmi diajukan terhadap dirinya pada 10 November tahun yang sama.

Jaksa Mikhail Reznichenko menuduhnya sengaja mencoba bergabung dengan divisi ISIS bernama Badr, yang sebagian besar berisi orang-orang Chechen.

"Kewajiban anggota divisi Badr termasuk merencanakan dan mengimplementasikan aksi teroris dan subversif di Suriah dan Rusia dengan bom bunuh diri," kata sang jaksa.

Jatuh Cinta dengan Perekrut ISIS

Varvara Karaulova mengaku jatuh cinta terhadap perekrutnya, Airat Samatov. Ia mengaku telah menikah secara online dalam upacara virtual dengan Samatov - yang ia kenal sebagai Vlad.

Berdasarkan keterangan Karaulova, Samatov bertempur bersama ISIS sebagai strom trooper dan dokter.

Pria yang merekrut Karaulova, Airat Samatov. Sumber: Daily MailPria yang merekrut Karaulova, Airat Samatov. Sumber: Daily Mail

"Saya tak bisa menolak dan mulai berkorespondensi dengan dia," kata Karaulova seperti dikutip oleh narasumber yang dekat dengan tim investigasi.

Ia mengaku telah jatuh cinta selama tiga tahun terhadap pria tersebut. Namun, ia bersikeras bahwa dirinya tak berencana menjadi teroris ataupun pelaku bom bunuh diri.

Menurut Daily Mail, sang mahasiswa bahkan mengaku pada tim investigasi bahwa ia membawa pakaian dalam seksi untuk memukau Samatov dalam pertemuan mereka di Suriah.

Di pengadilan, ia menekankan bahwa ia tak bergabung dengan organisasi apa pun. "Saya bukan teroris dan saya tak akan menjadi teroris."

Orangtuanya mengatakan bahwa anak mereka 'tergila-gila pada kekasih virtualnya, yang ternyata adalah seorang teroris'.“Kami sangat yakin Varvara adalah korban dari gerakan teroris tersebut. Tak ada alasan lain yang bisa menjelaskan keanehan perilaku Varvara. Kami juga menduga ia diberi zat psikotropik dan hal tersebut mungkin dapat dibuktikan dalam tes medis,” terang Aleksandr Karabanov, pengacara Varvara. Ia berharap tim investigasi dapat mengungkap jaringan perekrut yang menghubungi anaknya.

Dalam laporan khusus, BBC Indonesia menyebutkan bahwa kasus Karaulova juga terjadi pada mahasiswi dari universitas ternama Rusia lainnya. Dua minggu setelah kepulangan Karaulova, seorang mahasiswi bernama Mariam Ismailova menghilang dan dicurigai ingin bergabung dengan ISIS.

Karaulova dan Ismailova hanyalah dua dari sekian banyak mahasiswa dan mahasiswi Rusia yang dilaporkan telah bergabung dengan ISIS. Diperkirakan, jumlah anggota ISIS yang berasal dari Rusia mencapai hingga delapan persen.

Berdasarkan data Departemen Tantangan dan Ancaman Baru Kementerian Luar Negeri Rusia, lebih dari 3.200 warga negara Rusia telah meninggalkan negaranya untuk bergabung dengan barisan kelompok teroris ISIS di Suriah dan Irak sejak awal konflik terjadi.

Pakar Alexei Malashenko dari Carnegie Center di Moskow menyebutkan bahwa bahasa Rusia adalah bahasa utama ketiga di antara anggota ISIS, setelah bahasa Arab dan Inggris. ISIS juga telah meningkatkan propaganda berbahasa Rusia mereka sejak tahun lalu, termasuk menyiarkan berita di Radio Al-Bayan dalam bahasa Rusia dengan berbagai format dan merilis edisi pertama majalah berbahasa Rusia mereka, Furat Press.

Banyak pejabat dan pengamat setuju propaganda ISIS menjadi semakin efektif. Mereka mencatat setidaknya beberapa warganya yang meninggalkan Rusia untuk bergabung dengan ISIS datang dari wilayah selatan Rusia yang mayoritas Muslim, tulis BBC Indonesia.

"Mahasiswa dan anak-anak muda sering direkrut melalui media sosial, dan meninggalkan Rusia dengan harapan menemukan cinta, kasih sayang dan kehidupan lebih baik dengan ISIS," terang laporan tersebut.

Mayoritas penduduk Rusia yang bergabung dengan ISIS berasal dari Republik Dagestan, Chechnya, dan Ossetia Utara.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.