Ankara Akan Hentikan Bantuan untuk Oposisi Suriah, Berkompromi dengan Rusia

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, dan Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu dalam konferensi pers setelah pertemuan trilateral di Moskow.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, dan Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu dalam konferensi pers setelah pertemuan trilateral di Moskow.

Iliya Pitalev/RIA Novosti
Pembunuhan dubes Rusia membuat Turki mungkin membatalkan bantuannya untuk kelompok oposisi bersenjata dan lebih fokus untuk mencapai kesepakatan politik dengan Rusia.

Setelah peristiwa pembunuhan Duta Besar Rusia, Turki kemungkinan besar akan menghentikan bantuannya untuk kelompok oposisi bersenjata di Suriah dan berusaha berkompromi dengan Rusia terkait krisis di negara tersebut, demikian disampaikan pakar politik Rusia asal Turki Kerim Has kepada Sputnik, Rabu (22/12).

Pembunuhan dubes Rusia membuat Turki mungkin membatalkan bantuannya untuk kelompok oposisi bersenjata dan lebih fokus untuk mencapai kesepakatan politik dengan Rusia, kata Has.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan bahwa Rusia, Iran, dan Turki akan melanjutkan kerja sama terkait krisis Suriah. Pernyataan tersebut disampaikan Lavrov setelah bertemu dengan mitranya dari Turki dan Iran, Selasa (20/12), sehari setelah Duta Besar Rusia untuk Turki Andrey Karlov dibunuh di Ankara, Senin (19/12).

Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut pembunuhan tersebut sebagai aksi terorisme.

"Jelas bahwa pembunuhan Duta Besar Rusia di Ankara bertujuan mengganggu proses normalisasi hubungan Rusia-Turki," kata Has.

Has juga menyebut pembunuhan Karlov sebagai provokasi yang bertujuan mengagalkan proses perdamaian Suriah yang dilakukan oleh Rusia, Turki, dan Iran.

"Pihak yang ada di balik serangan tersebut mengira bahwa Rusia akan merespons peristiwa ini dengan langkah militer, tapi itu tak terjadi. Malah, pihak Rusia dan Turki menyebut pembunuhan itu sebagai serangan teroris dan ancaman bersama," terang Has.

Has memperkirakan pembunuhan Karlov bisa saja berhubungan dengan aksi kelompok oposisi di Suriah yang telah didukung militer Turki sebelumnya.

"Jika demikian, saya perkirakan Turki akan mengurangi bantuan militernya untuk kelompok tersebut dan mencoba berkompromi dengan Rusia terkait krisis Suriah," lanjut Has.

Pada Senin (19/12), petugas kepolisian Turki Mevlüt Mert Altıntaş menembak Karlov saat acara pembukaan galeri pameran seni di Ankara. Karlov tewas akibat luka tembak, yang disebut sebagai serangan teroris oleh Menteri Luar Negeri Rusia. Polisi kemudian menembak Altintas di lokasi kejadian.

Saat ini, Rusia dan Turki masih melakukan sebuah penyelidikan gabungan terhadap pembunuhan Karlov. Rusia membuka investigasi yang berhubungan dengan terorisme dalam kasus ini, dengan tim investigasi Rusia tiba di Turki, Selasa (20/12).

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.