Suriah Kirim Bukti Penggunaan Gas Mustard Oleh Pemberontak Terhadap Warga

Pemerintah Suriah telah menyerahkan sekumpulan dokumen dengan bukti penggunaan zat kimia terlarang oleh kelompok pemberontak terhadap warga sipil dekat Aleppo.

Pemerintah Suriah telah menyerahkan sekumpulan dokumen dengan bukti penggunaan zat kimia terlarang oleh kelompok pemberontak terhadap warga sipil dekat Aleppo.

Getty Images
Sampel tersebut rencananya akan dikirim ke kantor pusat OPCW di Den Haag.

Pemerintah Suriah telah menyerahkan sekumpulan dokumen yang membuktikan penggunaan zat kimia terlarang oleh kelompok pemberontak terhadap warga sipil dekat Aleppo kepada pengawas kimia internasional. Sampel dari peluru yang mengandung gas mustard akan dikirim ke Den Haag, Belanda, demikian dikabarkanRT, Minggu (18/12).

Dokumen tersebut diserahkan kepada lembaga Sekretariat Teknik Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) di Damaskus, tulis RT.

Lembaga tersebut diwakili oleh delapan orang pakar dari AS, Inggris, Australia, Slowakia, dan Slovenia yang telah bekerja di Damaskus atas permintaan pemerintah Suriah sejak 12 Desember lalu.

“Kami telah memberikan seluruh dokumen kepada mereka. OPCW akan datang sekali lagi ke Suriah untuk mengumpulkan sampel yang kemudian akan dianalisis,” kata juru bicara Pemerintah Nasional Suriah yang mengawasi penerapan Konvensi Senjata Kimia Samer Abbas dalam keterangan yang diterbitkan Kementerian Pertahanan Rusia.

Sampel tersebut rencananya akan dikirim ke kantor pusat OPCW di Den Haag menggunakan pesawat sewaan pada Januari mendatang. Saat ini, sampel masih disimpan di Suriah sampai kesulitan keuangan yang berhubungan dengan pengiriman sampel tersebut ke Eropa terselesaikan.

Mortir yang mengandung zat kimia kembali ditemukan di dekat Desa Maarat Umm Hawsh, Aleppo, pada 16 November oleh pakar dari Rusia yang sedang membersihkan ranjau di area tersebut.

Pakar kimia Rusia mengambil sampel dan mengonfirmasi bahwa zat yang aneh yang ditemukan tersebut adalah gas mustard. Zat beracun tersebut banyak digunakan selama era Perang Dunia I dan pengunaannya dilarang sejak 1923. Peluru ini diduga digunakan dalam serangan pada 16 September, yang melukai lebih dari 40 warga sipil dan mengharuskan mereka menjalani perawatan rumah sakit militer Yusuf al-Azma di Damaskus akibat gejala keracunan gas mustard.

Pada November kemarin, militer Rusia menyerahkan seluruh bukti terkait serangan tersebut termasuk sampel zat beracun kepada pemerintah Suriah. Kementerian Pertahanan Rusia menyebutkan bahwa bukti tersebut menunjukkan gas yang digunakan merupakan buatan rumahan bukan dipasok dari pihak ketiga — walau tak menutup kemungkinan zat itu berasal dari pihak lain.

Tak Dihiraukan

Petugas dari tentara Pertahanan Radiologi, Kimia, dan Biologi Rusia di Suriah sebelumnya menemukan bukti penggunaan klorin dan fosfor putih oleh para militan di provinsi Aleppo.

Menurut juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia Mayjen Igor Konashenkov, jejak zat tersebut terdapat pada fragmen yang ada pada ranjau, peluru, dan lubang tanah di Aleppo barat daya.

Rusia telah berulang kali meminta spesialis dari OPCW ikut serta mempelajari sampel yang dikumpulkan pakar dari Rusia, merujuk pada penggunaan zat yang dilarang oleh para militan di timur Aleppo.

“Para spesialis Rusia menemukan bahwa para militan di timur Aleppo menggunakan amunisi dengan zat beracun, dengan amunisi menargetkan Aleppo barat. Sampel yang telah dikumpulkan tidak diragukan lagi adalah zat beracun,” kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada akhir November.

Lavrov juga menyalahkan kurangnya tindakan OPCW terkait “tekanan besar” yang dihadapinya dari “rekan negara-negara Barat.”

Sejak September lalu, Staf Umum Rusia telah mengingatkan bahwa kelompok teroris dapat menggunakan senjata kimia terhadap warga sipil dan tentara pemerintah di Aleppo, tapi kesalahannya akan ditumpahkan ke Damaskus untuk merusak proses perdamaian di wilayah tersebut.

Pada bulan Oktober, media Suriah melaporkan bahwa gas beracun telah digunakan di wilayah pemerintahan di Aleppo, yang menyebabkan masalah pernapasan besar di antara penduduk lokal. Gejala dari 15 orang yang terluka menunjukan penggunaan gas klorin beracun tinggi, demikian disampaikan dokter setempat kepada RT.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.