Mantan CIA: Jika Saddam Hussein Masih Berkuasa, ISIS Mustahil Merajalela

Perempuan Irak menggenggam senapan AK-47 di depan foto mantan Presiden Irak Saddam Hussein.

Perempuan Irak menggenggam senapan AK-47 di depan foto mantan Presiden Irak Saddam Hussein.

YURI KOZYREV / NOOR
Mantan agen CIA membeberkan hasil interogasinya dengan Saddam Hussein.

ISIS tak mungkin menikmati kesuksesan mereka jika Saddam Hussein masih berkuasa, kata John Nixon, mantan agen CIA yang menginterogasi Hussein, seperti diberitakanRT. Nixon menyebutkan Barat seharusnya — dulu — menghadapi para pemimpin yang mereka 'benci' untuk menstabilkan Timur Tengah.

Nixon adalah orang pertama yang menginterogasi Saddam setelah penangkapannya pada Desember 2003, 13 tahun lalu. Buku karya Nixon berjudul "Debriefing the President: The Interrogation of Saddam Hussein” (Tanya-jawab dengan Sang Presiden: Interogasi Saddam Hussein) bercerita tentang invasi Irak dan eksekusi Saddam Hussein.

ISIS Tak Mungkin Tumbuh ‘Subur’ di Bawah Hussein

“Saat interogasi, Saddam memutarbalikkan asumsi-asumsi kami," tulis Nixon dalam buku yang diterbitkan oleh media Timedan Daily Mail. Secara khusus, mantan agen CIA ini bertanya apa yang akan terjadi jika Saddam masih berkuasa dan menyimpulkan bahwa — di antara hal-hal lain — perkembangan pesat ISIS hampir mustahil.

“Mustahil jika kelompok seperti ISIS bisa menikmati kesuksesan di balik rezim represifnya, yang mereka miliki di bawah pemerintahan Baghdad yang dipimpin kelompok Syiah," tulis Nixon.

Menurut Nixon, Saddam sangat menyadari potensi risiko perkembangan gerakan jihad dan ia sangat ingin menekan upaya semacam itu. "Saddam merasa kelompok ekstremis di Irak menciptakan ancaman besar bagi kekuasaannya dan perangkat keamanan yang ia miliki bekerja keras untuk mencabut akar tersebut.

Laporan Chilcot (hasil penyelidikan publik mengenai keterlibatan Inggris selama Perang Irak. -red.) yang belum lama ini terbit, yang ditulis oleh para anggota parlemen Inggris terkait keterlibatan negara tersebut dalam Perang Irak 2003, mendukung asumsi Nixon mengenai ISIS.

Dokumen-dokumen itu menunjukkan bahwa pada 2006, tiga tahun setelah invasi, para petinggi badan intelijen Inggris sangat khawatir terhadap kemunculan perlawanan jihadis Sunni. Kelompok radikal serta bagian dari militer Irak yang dibubarkan kemudian bergabung dengan kelompok jihad radikal, termasuk ISIS, papar laporan tersebut.

Meski tak berteman dengan Hussein, Nixon menuliskan bahwa ia 'salut dengan upaya Saddam mempertahankan bangsa Irak selama yang ia mampu'. Meski demikian, sang mantan agen CIA menekankan bahwa ia tak hendak menyebut Saddam tak bersalah, karena dakwaan yang dijatuhkan padanya termasuk 'pembunuhan, ancaman, pemerasan, dan hukuman penjara.'

"Namun dalam kekacauan dan kekerasan internal antara muslim Syiah dan Sunni yang muncul menyusul invasi 2003 yang dipimpin AS, kita bisa menganggap Hussein bukanlah pilihan terburuk," tulis Nixon.

"Jika menengok ke belakang, gambaran untuk membiarkan Saddam tetap berkuasa dan menua dengan sendirinya hampir lebih baik dibanding upaya sia-sia para pemuda-pemudi kita yang pemberani (tentara AS -red.) dan kebangkitan ISIS, serta 2,5 triliun pound sterling yang kita habiskan untuk membangun Irak yang baru," tulisnya. Sekitar 4.500 tentara Amerika, 179 tentara Inggris, serta 150 ribu orang Irak terbunuh dalam perang tersebut.

Nixon mengatakan ia juga diingatkan oleh sang pemimpin Irak bahwa upaya Amerika untuk menstabilisasi negaranya ditakdirkan gagal. "Anda akan gagal di Irak karena Anda tak tahu bahasanya, sejarahnya, dan Anda tak mengerti pola pikir Arab," kata Hussein seperti dikutip Nixon.

Menurut Nixon, meski tentara dan milisi Irak yang didukung oleh Washington kini mulai berhasil menghancurkan ISIS, AS masih jauh dari tujuan akhir tersebut.

Kini, Presiden terpilih AS Trump punya kesempatan 'untuk memerankan peran yang sangat besar' dalam menciptakan tatanan baru di Timur Tengah. "Hal itu butuh keputusan tegas dan tentu pengakuan bahwa kita mungkin harus berhadapan dengan orang-orang dan pemimpin yang kita benci untuk menciptakan kembali stabilitas di wilayah serta batas jangkauan terorisme," lanjutnya.

Trump sempat mengingatkan bahwa AS harus fokus menyingkirkan ancaman ISIS, bukan memaksa perubahan rezim di Suriah.

"Sikap saya adalah, Anda bertempur di Suriah, Suriah melawan ISIS, dan Anda harus menyingkirkan ISIS," kata Trump. Ia menambahkan bahwa saat Washington mendukung pemberontak melawan President Suriah Bashar al-Assad, mereka 'tak tahu siapa orang-orang itu.'

Perang di Suriah telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menelan ribuan korban. Rusia mulai menerjunkan para tentaranya untuk melakukan operasi militer di Suriah guna memberantas teroris yang hendak menguasai negara tersebut. Tak mau kalah, AS juga melancarkan serangan ke wilayah Suriah namun dengan tujuan membantu para pemberontak menggulingkan pemerintahan Assad yang berkuasa.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.