Pembebasan Aleppo Jadi Pukulan Keras bagi Teroris dan AS

Pada Kamis (15/12), sebuah koridor khusus di Aleppo Timur didirikan untuk menarik militan dan keluarga mereka. Lebih dari 1.000 orang dievakuasi dari Aleppo pada siang hari.

Pada Kamis (15/12), sebuah koridor khusus di Aleppo Timur didirikan untuk menarik militan dan keluarga mereka. Lebih dari 1.000 orang dievakuasi dari Aleppo pada siang hari.

AP
Pembebasan Aleppo oleh Tentara Suriah memberikan "pukulan keras" pada seluruh kelompok teroris yang telah bertempur di negara itu selama lebih dari empat tahun, kata wartawan Argentina Leandro Albani kepada media Rusia Sputnik.

Leandro telah bekerja sebagai reporter di Timur Tengah untuk majalah Sudestada dan situs web, seperti Resumen Latinoamericano dan Marcha.org.

"Tapi ini juga merupakan pukulan bagi Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya karena selama beberapa bulan terakhir Washington telah melakukan segala upaya untuk membantu semua pasukan pemberontak yang terpecah bersatu kembali," kata Albani dalam sebuah wawancara dengan Sputnik Mundo.

"Selama beberapa bulan terakhir, Washington melakukan segala upaya untuk membantu semua pasukan pemberontak yang terpecah bersatu kembali." — Leandro Albani
Menurut sang wartawan, karena satu-satunya tujuan Washington adalah mengumpulkan kembali kelompok-kelompok ekstremis — dan mempersenjatai mereka kembali — pembebasan Aleppo mungkin menjadi "pukulan terberat" yang diberikan Tentara Suriah pada para militan dan sponsor-sponsor asing mereka.

Kepada Sputnik, Leandro juga memuji peran Rusia sebagai pemain penting membantu menstabilkan situasi di negara yang dilanda perang itu.

"Rekonsiliasi dan rencana rekonstruksi berjalan dengan baik ketika Rusia terlibat," kata Albani menekankan.

Dia menambahkan bahwa di area-area di kota Aleppo yang dikuasai kelompok teroris, warga sipil hidup dalam kondisi yang tak terbayangkan.

"Mereka tidak melakukan apa pun untuk para peduduk (Aleppo). Mereka menggunakan penduduk sebagai tameng manusia. Sekarang, kota itu akan dibangun kembali. Namun, banyak teroris yang melarikan diri, dan beberapa militan masih aktif di Aleppo," katanya memperingatkan.

"Mereka (pemberontak dan teroris) tidak melakukan apa pun untuk para peduduk (Aleppo). Mereka menggunakan penduduk sebagai tameng manusia." — Leandro Albani​
Menurutnya, ancaman teroris di Suriah utara masih menjadi perhatian. Di sana, kelompok-kelompok teroris terus menebarkan teror di daerah-daerah tertentu.

"Tentara Suriah dan militer Rusia harus bersiap untuk kemungkinan serangan terbaru," kata Albani.

Sang wartawan juga menekankan bahwa selama setahun terakhir, pemerintah Suriah telah membuat sejumlah perjanjian dengan kelompok-kelompok pemberontak demi meyakinkan mereka untuk menurunkan senjata dan kembali ke kehidupan normal.

"Adapun upaya (bantuan) kemanusiaan Barat — mereka sangat lembek. Barat bahkan lebih banyak melakukan upaya untuk mendukung pemberontak Suriah," katanya.

Pada Kamis (15/12), sebuah koridor khusus di Aleppo Timur didirikan untuk menarik militan dan keluarga mereka. Lebih dari 1.000 orang dievakuasi dari Aleppo pada siang hari.

"Pertama-tama, keputusan untuk menarik militan dari Aleppo dibuat untuk mencegah jatuhnya korban sipil," kata Aleksandr Zhilin, seorang ahli militer dan kepala Pusat Keamanan Nasional Studi Masalah.

"Kami tak bisa membiarkan apa yang orang-orang Amerika telah lakukan dalam berbagai konflik selama beberapa dekade terakhir." — Aleksandr Zhilin​
"Evakuasi militan dari Aleppo dilakukan demi mencegah jatuhnya korban di kalangan warga sipil yang mereka tahan. Hal itu juga dilakukan untuk meminimalisasi kerugian yang diderita Tentara Suriah dalam bentrokan yang terjadi di berbagai sudut kota. Jadi, wilayah itu dibebaskan tanpa menumpahkan banyak darah," kata Zhilin kepada Radio Sputnik.

Menurut sang pakar, kehidupan warga sipil menjadi prioritas selama operasi Tentara Suriah di Aleppo.

"Kami tak bisa membiarkan apa yang orang-orang Amerika telah lakukan dalam berbagai konflik (di dunia) selama beberapa dekade terakhir. Ini adalah alasan mengapa media mainstream telah menyebarluaskan informasi palsu tentang Aleppo," pungkasnya.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.