Jurnalis di Aleppo: Tulisan Saya dan Media Rusia Sejalan dengan Kebenaran

Perang Suriah yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir kini kian panas dengan terpicunya 'perang informasi' antara media Barat dengan situasi nyata di Suriah.

Perang Suriah yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir kini kian panas dengan terpicunya 'perang informasi' antara media Barat dengan situasi nyata di Suriah.

Alla Shadrova, Spike Rogers
Seorang jurnalis asal Kanada, Eva Bartlett, mengecam pemberitaan dari media ‘mainstream’ mengenai krisis Suriah dalam pertemuan PBB baru-baru ini. Ia bercerita kepada RT bagaimana liputannya dituduh memihak Rusia dan pemerintah Suriah, tulis RT, Sabtu (17/12).

Eva Bartlett, seorang jurnalis lepas dan aktivis Hak Asasi Manusia yang memiliki blog di situs RT baru-baru ini, memicu perdebatan panas lewat pidato emosionalnya di forum PBB.

Dalam konferensi pers terkait misi di Suriah yang digelar PBB, Bartlett mengecam liputan media mainstream Barat mengenai perang Suriah dengan sebutan ‘memalukan’, seraya mengatakan bahwa narasumber lokal mereka ‘tidak kredibel’ dan — dalam kasus Aleppo — bahkan tidak nyata.

Dalam konferensi pers terkait misi di Suriah yang digelar PBB, Bartlett mengecam liputan media mainstream Barat mengenai perang Suriah dengan sebutan ‘memalukan,’ dengan mengatakan bahwa narasumber lokal mereka 'tidak kredibel' dan, dalam kasus Aleppo bahkan tidak nyata. Sumber: GeorgeGreekTrucker / YouTube

Sang jurnalis yang telah meliput peristiwa di Suriah sejak mulai pecahnya perang sipil menyatakan bahwa sekalipun ada “jurnalis yang benar-benar jujur di antara korporasi media yang sangat berkompormi,” banyak media terkemuka yang menghindari pengecekan fakta. Kepada RT, Bartlett menyebutkan bahwa respons keras yang ia terima dari rekan-rekan media atas kritiknya yang tak kenal ampun sangat tidak berdasar

“Beberapa orang mempermasalahkan hal-hal yang saya katakan karena pada dasarnya saya banyak mengkritik perusahaan media yang melaporkan Suriah. Masalahnya, alih-alih mencerna apa yang saya katakan dan mengkritik rincian yang saya katakan, orang-orang justru mencoba menjelekkan saya dan mengartikan saya sebagai agen (pemerintah) Suriah dan Rusia,” kata Bartlett.

Fakta bahwa Bartlett adalah seorang kontibutor aktif untuk rubrik op-edge RT juga dibawa-bawa.

“Fakta bahwa saya menjadi kontributor untuk rubrik op-edge RT ternyata, di mata beberapa orang, membuat saya berkompromi (terhadap konflik di Suriah). Saya mulai menjadi kontributor untuk rubrik op-edge RT saat saya tinggal di Gaza, dan ini tidak jadi masalah bagi orang-orang yang menghargai tulisan saya,” kata Bartlett.

Bartlett juga membantah tuduhan yang menyebut bahwa pemerintah Suriah membayarnya untuk berbicara di PBB.

“Bukan pemerintah Suriah yang menyuruh saya berbicara di PBB. Itu adalah permintaan saya sendiri, dan saya meminta ini karena... saya rasa ini adalah sebuah kesempatan baik untuk memberitahu khalayak luas apa yang saya lihat dalam kunjungan mandiri saya ke Suriah.”

“Satu-satunya hal yang berkaitan dengan pemerintah Suriah adalah duta besar Suriah untuk PBB yang menyetujui memberikan fasilitas ini,” katanya.

Eva Bartlett, seorang jurnalis independen asal Kanada menjelaskan apa dan siapa yang dibela media Barat di Suriah dan dari mana media-media itu mendapatkan sumber pemberitaannya. Sumber: IN THE NOW / YouTube

Berdasarkan pidato PBB Bartlett, perusahaan media melaporkan informasi yang berlawanan dengan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan, sedangkan laporannya berasal dari interaksi pribadi dengan warga Suriah selama kunjungannya yang keenam kali ke negara yang tengah dilanda perang tersebut.

“Apa yang saya tulis, apa yang saya laporkan, dan siapa yang saya kutip adalah berasal dari warga sipil Suriah yang saya temui di sana.,” kata Bartlett.“

Laporannya Bartlett berasal dari interaksi pribadi dengan warga Suriah selama kunjungannya yang keenam kali ke negara itu.
“Jika masyarakat tidak mau mendengar suara warga sipil Suriah, dan jika mereka ingin terus menjaga narasinya yang sejalan dengan narasi NATO — yang juga sejalan dengan mengacaukan Suriah dan mencemari pemerintah Suriah dan mengabaikan keinginan besar masyarakat Suriah — maka mereka melakukan ini dengan menuduh saya menyebarkan propaganda,” kata sang jurnalis menekankan.

Barat memandang RT sebagai media propaganda dari pemerintah Rusia. Hubungan Bartlett dengan RT telah digunakan sebagai dasar untuk menuduhnya melaporkan berita palsu karena berbeda dari gambaran krisis Suriah yang ditunjukkan oleh media mainstream Barat, klaimnya.

“Kenyataan bahwa saya menulis apa yang saya saksikan di Suriah saat saya berada di sana, saat saya berbicara dengan warga sipil Suriah — dan saya terkadang menjadi kontributor RT — tiba-tiba (ketika membahas isu Suriah) ini menjadi masalah.”

“Saya adalah seorang jurnalis lepas, saya menulis untuk siapa pun yang saya mau. Saya memasukkan sebuah artikel ke rubrik op-edge Russia Today dan mereka yang memutuskan apakah mereka akan menerbitkannya atau tidak — begitulah cara kerjanya,” terang Bartlett menjelaskan alasan sejalannya laporan yang ia buat dengan media Rusia mungkin karena keduanya sama-sama akurat.

Hubungan Bartlett dengan RT telah digunakan sebagai dasar untuk menuduhnya melaporkan berita palsu karena berbeda dari gambaran krisis Suriah yang ditunjukkan oleh media mainstream Barat.
“Fakta bahwa tulisan saya sejalan dengan rakyat Suriah... di beberapa bagian sejalan dengan laporan media Rusia, bukan berarti saya melaporkan propaganda Rusia, dan itu bukan berarti bahwa laporan media Rusia adalah propaganda. Pada kenyataannya, bahwa saya melaporkan apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan, dan beberapa media Rusia ternyata juga melaporkan apa sesungguhnya mereka lihat di lapangan.”

“Mengapa kita tidak melihat tuduhan semacam ini ketika jurnalis BBC pergi ke Suriah dan melaporkan apa yang sering saya percaya bukan sebagai laporan yang utuh? Mengapa mereka tidak dituduh bekerja untuk Inggris? Mengapa jurnalis Al Jazeera tidak dituduh bekerja untuk Qatar?” tanya Bartlett, menambahkan bahwa seluruh 'tuduhan yang diberikan' adalah serangan untuk mendiskreditkan apa yang ia sampaikan.

Perang Suriah yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir kini kian panas dengan terpicunya 'perang informasi' antara media Barat dengan situasi nyata di Suriah. Kekisruhan ini tak hanya berada di media mainstream, tapi juga merambah hingga ke media sosial melalui akun selebtwit cilik yang disebut-sebut sebagai 'Anne Frank Aleppo', tapi memiliki banyak kejanggalan di dalamnya.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.