AS Persenjatai Pemberontak Suriah yang Bersekutu dengan Al-Qaeda

Logo CIA terlihat ditampilkan sebelum Presiden Barack Obama berpidato di Markas CIA di Langley, Virginia, Amerika Serikat.

Logo CIA terlihat ditampilkan sebelum Presiden Barack Obama berpidato di Markas CIA di Langley, Virginia, Amerika Serikat.

AP
Selama betahun-tahun, CIA secara langsung dan tidak langsung telah mempersenjatai kelompok pemberontak yang beraliansi dengan al-Qaeda untuk menggulingkan pemerintah Suriah.

Badan Intelijen Pusat AS (CIA) telah mempersenjatai kelompok pemberontak yang bersekutu dengan organisasi teroris al-Qaeda demi menggulingkan Presiden Suriah Bashar Assad. Demikian pernyataan itu disampaikan anggota Kongres AS dan sekaligus seorang veteran Tulsi Gabbard dalam kicauannya di media sosial Twitter, seperti dikutipSputnik, Sabtu (17/12).

“Selama betahun-tahun, CIA secara langsung dan tidak langsung telah mempersenjatai kelompok pemberontak yang beraliansi dengan al-Qaeda untuk menggulingkan pemerintah Suriah,” tulis Gabbard, Jumat (16/12) malam.

Meski Presiden AS Barack Obama menyebutkan pentingnya bantuan kemanusiaan bagi penduduk Suriah di Aleppo saat konferensi pers pada Jumat sore, ia tidak memaparkan bahwa pemerintahannyalah yang telah “memicu krisis” di sana, kata Gabbard menambahkan.

“Inilah mengapa saya memulai #StopArmingTerroristAct untuk mengakhiri kegilaan yang menyebabkan penderitaan besar ini — sementara Amerika memperkuat al-Qaeda,” tulis Gabbard di Twitter.

Pada 8 Desember, Gabbard mengajukan undang-undang “Stop Arming Terrorist Act” agar pemerintah Amerika berhenti menggunakan uang para wajib pajak AS untuk mempersenjatai kelompok teroris, memberikan pelatihan, dukungan intelijen, serta mendanai kelompok teroris, seperti ISIS.

Dalam beberapa bulan terakhir, Aleppo telah menjadi medan pertempuran yang paling penting di Suriah. Pertempuran ini melibatkan antara pasukan pemerintah dan sejumlah oposisi serta kelompok-kelompok ekstremis.

Selama tiga minggu terakhir, tentara Suriah telah membebaskan lebih dari 98 persen wilayah Aleppo timur yang telah diduduki kelompok teroris sejak 2012. Sebanyak 100 ribu penduduk dari kota itu pun berhasil dibebaskan.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.