Aktivis: Selebtwit Cilik Aleppo Bana Alabed Adalah Alat Propaganda

Berkat laporan media yang luas, Bana menjadi ikon perang Suriah dan bahkan disebut “Anne Frank Aleppo.”

Berkat laporan media yang luas, Bana menjadi ikon perang Suriah dan bahkan disebut “Anne Frank Aleppo.”

Bana Alabed / Twitter
Akun Bana yang diberi tanda “terverifikasi” oleh Twitter dibuat tiga bulan lalu dan sejak itu telah memiliki lebih dari 310 ribu pengikut. Namun, orang di balik akun tersebut bahkan tak bisa bicara bahasa Arab.

Pada 27 November lalu, aktivis Suriah Maytham Al Ashkar menghubungi selebritas Twitter berusia tujuh tahun Bana Alabed dan menawarkan untuk mengevakuasi keluarganya dari Aleppo timur. Setelah satu bulan berselang, seseorang yang mengaku sebagai ibu Bana merespons

“Apa yang terjadi selanjutnya, meyakinkan saya bahwa akun Bana adalah alat propaganda,” kata Maytham kepada Sputnik, Jumat (16/12).

Banyak yang mempertanyakan keaslian akun Bana, merujuk pada video di mana Bana tampak membaca teleprompter. Sumber: RT / YouTube

Akun Bana yang diberi tanda “terverifikasi” oleh Twitter dibuat tiga bulan lalu dan sejak itu telah memiliki lebih dari 310 ribu pengikut. Cuitannya di Twitter ditulis oleh Bana sendiri dan ibunya, Fatemah, yang mengatakan bahwa ia mengajarkan anaknya berbicara bahasa Inggris dan menggambarkan kehidupan dalam pengepungan di Aleppo timur.

Banyak yang mempertanyakan keaslian akun tersebut — mengacu pada video yang menunjukkan Bana tampak membaca teleprompter. Selain itu, tidak jelas pula kebenaran hal-hal yang ditulis Bana di Twitter, mengingat siapa pun penggunanya dan di mana pun ia berada dapat menulis dari akun tersebut selama mereka memiliki password atau kata sandi ke akunnya.

Berkat laporan media yang luas, Bana kemudian menjadi ikon perang Suriah dan bahkan disebut sebagai “Anne Frank Aleppo”.

Dihubungi untuk Dibantu

Aktivis pro pemerintah Maytham Al Ashkar asal Al-Zahraa di Suriah utara, saat ini berada di Beirut, Lebanon. Namun, ia sering mengunjungi Damaskus dan Aleppo. Ia menawarkan diri untuk membantu Bana dan keluarganya dan menghubungi akun Twitter Bana pada 27 November lalu.

“Kamu adalah warga sipil, kamu adalah rakyat kami, kami peduli kepada kamu,” kata Maytham dalam pesannya.

Pada Senin (12/12) lalu, seorang pengguna berbahasa Arab menghubungi Maytham, bertanya padanya apakah tawaran membantu keluarga tersebut masih berlaku. Saat Maytham mengonfirmasi proposalnya, sang pengguna mengatakan bahwa Bana sendiri yang akan menghubunginya.

“Orang ini dihubungi Bana, yang mengatakan padanya bahwa Bana ingin menerima tawaran saya. Saat ia mendapat konfirmasi dari saya, akun Bana langsung menghubungi saya,” terang Maytham.

“Saat saya dihubungi oleh akun Bana, saya mulai berbicara dalam bahasa Arab karena kami semua orang Suriah dan bahasa Arab adalah bahasa ibu kami. Meski demikian, jelas bahwa orang di balik akun tersebut lebih memilih bahasa Inggris sebagai bahasa untuk berkomunikasi.”

Menurut laporan media, ayah Bana, Ghassan, bekerja di “departemen legal dewan lokal” dan sang ibu, Fatemah, adalah seorang guru.

Meski demikian, tampaknya ketidakkefasihan bahasa Arab dari pihak ibu Bana adalah sama tidak mungkinnya seperti bahasa Inggris Bana yang tanpa cela.

“Menurut media, ibu Bana belajar ilmu hukum. Ini berarti ia telah belajar kurikulum Suriah selama 12 tahun yang semuanya dalam bahasa Arab, ditambah empat tahun di universitas yang seluruh mata kuliah disampaikan dalam bahasa Arab,” kata Maytham kepada Sputnik.

Maytham mendapat izin dari pemerintah kota dan Tentara Suriah untuk memfasilitasi evakuasi Bana dari Aleppo.

“Semuanya disiapkan untuk evakuasi keluarga Bana, dan gubernur Aleppo menindaklanjutinya kepada saya secara pribadi,” kata Maytham.

“Pemerintah Suriah bahkan setuju untuk menyelesaikan status hukum ayah Bana yang ternyata merupakan anggota Brigade Islam al-Safwa. Pemerintah juga setuju mengevakuasi mereka dari Aleppo Timur ke tujuan mana pun sesuai pilihan mereka, bahkan di luar Suriah.”

“Saya bahkan mengundang seluruh media untuk menghubungi saya atau gubernur sehingga dapat meliput evakuasi ini yang merupakan jaminan untuk memastikan tidak ada satu pun yang ingin menyakiti Bana dan keluarganya.”

Pada akhirnya, Bana mengeluh bahwa Maytham terlalu “terburu-buru” sehingga Bana menolak tawaran tersebut.

“Orang yang menghubungi saya melalui akun itu tidak merasa takut,” kata Maytham.

Siapa yang Berada di Balik Akun Bana?

“Tidak ada hal-hal sebagaimana cuitan Bana ini. Anak ini hanya sebagai topeng — sebuah alat yang digunakan intelijen Inggris, dan saya mengatakan Inggris karena hubungan yang erat antara akun Bana dengan White Helmets, yang didanai dan disponsori Inggris,” kata Maythem.

“Saya percaya bahwa dulu anak ini ada di Aleppo, tapi sekarang tidak lagi di sana. Perannya adalah untuk mengambil foto dan video yang sama, dan saat itu selesai ia pergi.”

Pertanyaan lainnya adalah mengapa akun Bana menghubungi aktivis pro pemerintah?

“Saya percaya bahwa akun ini menghubungi saya untuk membuktikan saya sebagai sarang. Mereka kira bahwa saya tidak serius sehingga mereka ingin memperkenalkan saya sebagai pembohong ‘pembuat propaganda rezim’. Saya menulis tawaran saya ke Bana sebulan lalu dan mungkin mereka ingin menarik saya untuk mengancam mereka atau mengatakan hal yang tidak pantas untuk digunakan melawan pemerintah Suriah.”

Mereka terkejut saya tidak berbohong. Saya benar-benar mencoba membantu seorang anak yang digunakan dan disiksa dan bahwa serta pemerintah Suriah sangat mudah untuk bekerja sama!tutup Maytham.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.