Media Barat Sebar Kebohongan dan Putar Balikkan Fakta Pembebasan Aleppo

Isu mengenai "Tentara Suriah yang membantai warga sipil" adalah sebuah kebohongan yang disebarluaskan media Barat.

Isu mengenai "Tentara Suriah yang membantai warga sipil" adalah sebuah kebohongan yang disebarluaskan media Barat.

Alla Shadrova, Spike Rogers
Sementara Tentara Suriah berhasil membebaskan Aleppo, media Barat justru tak henti-hentinya menggambarkan suasana yang menakutkan, tragis, dan mencekam saat melaporkan perkembangan situasi di kota itu. Namun sebenarnya, situasi di lapangan benar-benar berbeda jauh dari apa yang disebarluaskan media Barat, kata Alexandre Goodarzy, kepala organisasi kemanusiaan SOS Chrétiens d'Orient di Aleppo.

Mengomentari situasi terkini di Aleppo, Goodarzy mengatakan bahwa Tentara Suriah terus memerangi sisa-sisa militan yang masih bertahan dan menguasai “wilayah seluas dua kilometer persegi” di kota itu.

"Mereka bertarung mati-matian. Tampaknya sisa-sisa militan (yang masih bertahan) itu adalah para pejuang asing yang direkrut untuk bertempur di negara ini. Mereka juga menembaki wilayah Aleppo barat," kata Goodarzy kepada Sputnik Prancis.

Goodarzy menyebutkan, isu mengenai “Tentara Suriah yang membantai warga sipil” adalah sebuah kebohongan yang disebarluaskan media Barat.

"Satu-satunya pembantaian di sini dilakukan oleh para militan. Beberapa di antaranya masih mengendalikan satu atau dua persen dari wilayah di tenggara Aleppo," katanya.

Seorang jurnalis independen asal Kanada menjelaskan apa dan siapa yang dibela media Barat di Suriah dan dari mana media-media itu mendapatkan sumber pemberitaannya. Sumber: IN THE NOW / YouTube

Sang aktivis juga mengatakan bahwa penduduk Aleppo masih merayakan pembebasan kota mereka.

"Ada perayaan di berbagai sudut kota, kemarin dan hari ini. Ini bukanlah kejatuhan kota Aleppo (seperti yang dilaporkan media Barat -red.). Orang-orang sangat bergembira. Kota yang tadinya terbagi sekarang telah bersatu kembali. Tidak ada lagi Aleppo timur dan Aleppo barat. Hanya ada satu Aleppo," kata Goodarzy.

Kepada Sputnik, ia juga mengatakan bahwa dia telah bertemu banyak orang dari Aleppo timur yang bercerita tentang peristiwa tragis yang harus mereka lalui ketika bagian timur kota ini diduduki teroris.

Goodarzy juga mengkritik media Prancis yang memelintir laporan terkait situasi di Aleppo.

"Menurut saya, para wartawan Perancis adalah pendusta. Mereka tahu apa yang terjadi di sini, tapi mereka memutarbalikkan fakta. Ini adalah apa yang saya lihat di Aleppo dan kota-kota (Suriah) lainnya. Saya sudah tinggal di sini selama satu setengah tahun. Saya tahu apa yang para pemberontak lakukan di sini," katanya.

Pada Minggu (11/12), Tentara Suriah secara resmi mengumumkan kemenangan mereka di Aleppo. Pertempuran Aleppo berlangsung lebih dari empat tahun sejak 19 Juli 2012. 

Dalam beberapa bulan terakhir, Aleppo telah menjadi medan pertempuran yang paling penting di Suriah. Pertempuran ini melibatkan antara pasukan pemerintah dan sejumlah oposisi serta kelompok-kelompok ekstremis.

Selama tiga minggu terakhir, tentara Suriah telah membebaskan lebih dari 98 persen wilayah Aleppo timur yang telah diduduki kelompok teroris sejak 2012. Sebanyak 100 ribu penduduk dari kota itu pun berhasil dibebaskan.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.