Peningkatan Anggaran Pertahanan NATO Picu Perlombaan Senjata Baru

Seorang demonstran memegang papan protes dalam demonstrasi anti-NATO di Podgorica, Montenegro.

Seorang demonstran memegang papan protes dalam demonstrasi anti-NATO di Podgorica, Montenegro.

Reuters
Akankah hubungan Rusia-Barat kembali ke level seperti masa Perang Dingin?

Peningkatan kekuatan militer NATO yang sejalan dengan pembengkakan anggaran pertahanan negara-negara anggotanya berpotensi kembali menciptakan perlombaan senjata seperti pada era Perang Dingin, sedangkan kebijakan Rusia memangkas anggaran militernya bisa dilihat sebagai upaya untuk melakukan optimisasi, demikian disampaikan dosen dari Fakultas Politik Dunia Universitas Negeri Moskow Alexey Fenenko kepada RIA Novosti, seperti dikutipSputnik, Selasa (13/12).

Dalam sebuah wawancara dengan RIA Novosti, Fenenko secara spesifik menyebut bahwa peningkatan pertahanan militer serta anggaran pertahanan negara-negara NATO akan memicu perlombaan senjata secara signifikan.

Sebelumnya, merujuk kepada laporan tahunan Jane's Defense Budget, media The Financial Times menyebutkan bahwa untuk pertama kalinya sejak 1990 Rusia tak berada dalam lima negara teratas dalam hal anggaran pertahanan. Menurut laporan tersebut, anggaran militer Rusia pada tahun 2016 ialah sekitar 48,5 miliar dolar AS (sekitar 645 triliun rupiah), sedangkan anggaran pertahanan AS berjumlah 622 miliar dolar AS (sekitar 8 ribu triliun rupiah) yang merupakan negara dengan anggaran tertinggi dalam daftar tersebut.

Disebutkan pula bahwa anggaran militer negara-negara Eropa Barat meningkat untuk pertama kalinya dalam kurun waktu enam tahun, dan AS telah mengakhiri pemangkasan anggaran militernya.

Rusia Pangkas Anggaran Militer

Sementara, anggaran militer Rusia mengalami penurunan dibanding negara-negara tersebut, untuk pertama kalinya selama 25 tahun.

Menanggapi hal itu, Fenenko menginggung perbedaan kebijakan pertahanan yang diambil Rusia dan NATO.

“Rusia ingin melakukan optimalisasi. Mereka sadar akan kehadiran target nyata sehingga mungkin tak terlalu mengarah pada pengembangan sistem yang menguras biaya. Misalnya, Rusia fokus terhadap bagaimana memblokir sistem pertahanan presisi tinggi, sementara NATO fokus mengembangkan sistem mahal ini,” kata Fenenko.

Sang pakar juga menjelaskan bahwa alokasi dana untuk tujuan pertahanan sangat dipengaruhi oleh sistem birokrasi yang sering terlibat dalam penggelapan dana. “Jumlah besar yang dialokasikan untuk menciptakan senjata canggih sejak 30 – 40 tahun lalu kini masih belum ada hasilnya,” tambah Fenenko.

Menurut sang pakar, terdapat sejumlah proyek militer dengan anggaran fantastis yang menurutnya “tidak menghasilkan apa-apa.”

“Meski kita tak bisa menyebut ini sebagai kompetisi persenjataan baru, hal ini memengaruhi pembangunan infrastruktur untuk kompetisi senjata masa depan, sesuatu yang saat ini sedang berlangsung di Barat,” tambahnya.

Pada awal tahun ini, survei Pew Research menunjukan bahwa sepertiga negara anggota NATO (32 persen) merasa perlu meningkatkan anggaran pertahanannya, sementara hampir separuh anggota ingin mempertahankan besarnya anggaran pada level mereka saat ini.

Belanda dan Polandia merupakan dua negara yang mendukung peningkatan anggaran militer, sementara Spanyol, Italia, dan Yunani hanya ingin sedikit berinvestasi.

Sejak 2014, NATO terus meningkatkan kehadiran militernya di Eropa, terutama di negara-negara Eropa Timur yang dekat dengan Rusia, menggunakan dalih keterlibatan Moskow dalam konflik Ukraina sebagai alasan. Moskow telah berkali-kali membantah klaim tersebut dan mengingatkan NATO bahwa peningkatan militer di perbatasan Rusia adalah langkah provokatif dan akan mengancam strategi keseimbangan kekuatan yang ada saat ini.

Hubungan militer antara NATO-Rusia dibangun sejak 1991 dalam kerangka kerja Dewan Kerja Sama Atlantik Utara. Pada tahun 1990-an, kedua pihak menandatangani sejumlah kesepakatan kerja sama penting. Namun, sejak 1 April 2014, NATO menangguhkan kerja sama dengan Rusia sebagai respon atas krisis Ukraina.

Pada akhir 2014 Presiden Putin menandatangani amandemen doktrin militer nasional Rusia yang mencantumkan kehadiran militer NATO di dekat perbatasan Rusia sebagai ancaman militer utama.