Lavrov: AS Sebisa Mungkin Hindari Menyerang Teroris Front Al-Nusra

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.

Reuters
Dialog dengan AS terkait Suriah adalah pertemuan yang tak membuahkan hasil.

AS sebisa mungkin tak mau menyerang kelompok teroris front al-Nusra, demikian disampaikan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, Rabu (14/12), seperti dikutipSputnik.

Posisi AS dalam dialog dengan Rusia mengenai Suriah dapat dijelaskan dengan keinginan Washington untuk melindungi front al-Nusra, kata sang menteri. Menurutnya, dialog dengan AS terkait Suriah adalah 'pertemuan yang tak membuahkan hasil'.

"Kontak masih berlanjut. Namun, setiap kali kami menyepakati sesuatu, pihak AS mundur dari kesepakatan yang sudah tercapai," kata Lavrov seperti dikutip Sputnik.

Menurut Lavrov, posisi AS dalam dialog dengan Rusia dapat dijelaskan dengan keinginan mereka untuk melindungi kelompok militan front al-Nusra dari serangan. "Mereka terus menghindari untuk mengarah militan al-Nusra dengan segala cara," tambah Lavrov.

Sementara, Rusia juga berdialog dengan semua kelompok militan di Suriah, kecuali ISIS dan Front al-Nusra.

Lavrov menyebutkan, permintaan untuk 'gencatan senjata' hendak memberi waktu bagi para militan untuk beristirahat dan menerima senjata. "Tak seperti di Suriah, tak ada seorang pun di Irak, Libya, atau khususnya Yaman yang meminta untuk menerapkan gencatan senjata dengan segera sebelum dialog. Permintaan tersebut fokus pada satu hal, yakni memberi jeda bagi para teroris agar mereka bisa mendapatkan senjata baru. Itu yang terjadi di Palmyra (Tadmur)," kata Lavrov.

Pada saat yang sama, Rusia berharap situasi di Aleppo akhirnya bisa diselesaikan dalam dua atau tiga hari mendatang. "Hanya intervensi dari Pasukan Kedirgantaraan Rusia yang membuat Suriah mampu menghentikan ancaman ini (ISIS) dan mulai mengusir para teroris. Saya harap dalam dua atau tiga hari situasi di Aleppo timur akan terselesaikan. Kami telah membentuk koridor kemanusiaan yang digunakan oleh puluhan ribu warga sipil untuk meninggalkan wilayah konflik," terang Lavrov.

Tujuan utama di Suriah saat ini ialah menyelesaikan situasi di Aleppo dan mengembalikan kota ke kehidupan normal.

Sang menteri menegaskan bahwa tuduhan Rusia memaksa warga sipil untuk meninggalkan Aleppo tidaklah benar. "Tak ada yang memaksa siapa pun untuk pergi. Mereka yang ingin pergi adalah mereka yang akhirnya memutuskan untuk pergi," tegas Lavrov.

Kemarin, pusat rekonsiliasi Rusia di Suriah melaporkan bahwa lebih dari 7.000 warga sipil telah dievakuasi dari Aleppo timur dalam kurun waktu 24 jam, dan sebanyak 375 orang milisi mengaku menyerah.

Sebelumnya pada Senin (12/12), Tentara Arab Suriah berhasil membuat kemajuan signifikan dalam perjuangan merebut kembali Aleppo dan hanya menyisakan tiga blok permukiman yang masih dikuasai pasukan antipemerintah.

Para pemberontak hanya memiliki sedikit pilihan selain "menyerah atau mati", kata Letnan Jenderal Zaid al-Saleh, direktur Komite Keamanan Suriah, kepada para wartawan di distrik Sheik Saeed.

Pertempuran Aleppo berlangsung lebih dari empat tahun sejak 19 Juli 2012. Dalam 24 jam terakhir menjelang kemenangan, sekitar 10 ribu hingga 13 ribu warga sipil telah meninggalkan kota. Dengan demikian, berdasarkan laporan, total pengungsi saat ini mencapai sekitar 130 ribu warga.

Setelah saluran-saluran televisi lokal melaporkan kemenangan ini, para warga segera membanjiri jalan raya dan menembakkan senapan ke udara sebagai bentuk kebahagiaan mereka atas kemenangan itu.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.