Tentara Suriah Umumkan Kemenangan di Aleppo

Seorang tentara Suriah menancapkan bendera nasional dalam pertempuran melawan kelompok pemberontak di garis depan Ramouseh, Aleppo Timur, Suriah.

Seorang tentara Suriah menancapkan bendera nasional dalam pertempuran melawan kelompok pemberontak di garis depan Ramouseh, Aleppo Timur, Suriah.

AP
Setelah lebih dari empat tahun, Tentara Suriah berhasil merebut kembali Aleppo.

Tentara Suriah secara resmi telah membebaskan Aleppo setelah mengusir pemberontak dari benteng pertahanan terakhir mereka di bagian timur kota itu. Demikian hal itu dilaporkanSputnik.

Sebelumnya pada Senin (12/12), Tentara Arab Suriah berhasil membuat kemajuan signifikan dalam perjuangan merebut kembali Aleppo dan hanya menyisakan tiga blok permukiman yang masih dikuasai pasukan antipemerintah.

Para pemberontak hanya memiliki sedikit pilihan selain "menyerah atau mati", kata Letnan Jenderal Zaid al-Saleh, direktur Komite Keamanan Suriah, kepada para wartawan di distrik Sheik Saeed.

Pertempuran Aleppo berlangsung lebih dari empat tahun sejak 19 Juli 2012. Dalam 24 jam terakhir menjelang kemenangan, sekitar 10 ribu hingga 13 ribu warga sipil telah meninggalkan kota. Dengan demikian, berdasarkan laporan, total pengungsi saat ini mencapai sekitar 130 ribu warga.

Setelah saluran-sauran televisi lokal melaporkan kemenangan ini, para warga segera membanjiri jalan raya dan menembakkan senapan ke udara sebagai bentuk kebahagiaan mereka atas kemenangan itu.

Saluran televisi pemerintah Suriah Sana juga menayangkan Presiden Bashar al-Assad yang mengucapkan selamat kepada pasukan Suriah setelah mengumumkan kemenangan di Aleppo.

Sepanjang pertempuran Aleppo, pasukan pemerintah telah berulang kali mendesak para warga sipil untuk meninggalkan daerah itu. Pasukan pemerintah berupaya keras demi membentuk koridor kemanusiaan untuk memindahkan mereka yang ingin melarikan diri dari pertempuran itu. Namun, berbagai kelompok teroris yang bertempur di Aleppo mencegah para warga sipil meninggalkan daerah itu dan justru menggunakan mereka sebagai "tameng manusia". 

"Warga sipil digunakan sebagai pion dan dicegah meninggalkan kota," kata juru bicara PBB Rupert Colville baru-baru ini.

Sementara itu, pada Senin pagi, sekitar 4.000 militan ISIS melancarkan serangan ke kota Palmyra (Tadmur), Suriah, dengan menggunakan persenjataan berat, kendaraan lapis baja, dan tank. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyebutkan bahwa serangan itu kemungkinan telah "diatur", sementara mantan Duta Besar Inggris untuk Suriah mengatakan Amerika Serikat dan sekutunya "sama seklai tidak berupaya membantu menghentikan serangan ISIS" sekalipun memiliki kemampuan pengawasan yang mutakhir, yang kemungkinan bisa mendeteksi pembentukan kambali militan ISIS beserta kendaraan-kendaraan temput mereka dalam perjalanan ke Palmyra.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.