Gorbachev: Barat Terus Salahkan Rusia Atas Segala Hal

Mantan Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev.

Mantan Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev.

Reuters
Rusia merasa dirinya terus dicurangi sehingga sulit bekerja sama dengan AS.

Moskow dan Washington perlu bekerja sama, tapi hal itu sulit bagi Rusia ketika ia sadar telah 'dikhianati', demikian kata mantan Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev dalam wawancara dengan AP, seperti dikutipRT.

Gorbachev menyebutkan bahwa upaya Barat mengambinghitamkan Rusia untuk waktu yang lama tak mungkin tidak meinggalkan jejak.

“Mereka telah mendesak Rusia dengan berbagai tuduhan dan menyalahkan Rusia atas segala hal. Dan kini ada reaksi keras hal itu di Rusia.”

Namun, itu bukan berarti Moskow tak mau berkolaborasi dengan Washington, tegas Gorbachev. Sayangnya, ada isu-isu yang mengganggu kelancaran upaya tersebut, misalnya sikap AS sendiri.

“Rusia ingin punya hubungan yang bersahabat dengan Amerika, tapi sulit melakukan itu ketika Rusia merasa dirinya terus dicurangi," kata Gorbachev pada AP.

Ia menambahkan bahwa ketegangan antara Rusia modern dengan Barat bermula sejak runtuhnya Uni Soviet.

“Saat Soviet runtuh, mereka sangat bersemangat dan merasa, 'Betapa menyenangkan! Kami telah mencoba untuk melakukan sesuatu terhadap Uni Soviet selama puluhan tahun dan kini mereka menghancurkan dirinya sendiri!'," kata Gorbachev, mencela 'sorak kemenangan' Barat sebagai isu kunci antara Rusia dan Barat.

Namun, Rusia dan AS perlu mengembangkan hubungan baik karena mereka sangat penting dan berkaitan dengan banyak pihak lain. Menurut Gorbachev, dunia butuh Rusia dan AS untuk bekerja sama. "Bersama, mereka bisa memimpin dunia menuju jalan yang baru."

Gorbachev juga menyuarakan opininya mengenai Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden terpilih AS Donald Trump.

Putin, menurut mantan presiden Soviet, adalah 'presiden yang layak'. "Ia telah membuktikan kelayakannya. Ia adalah orang yang kuat," tambah Gorbachev. "Saya hampir sepenuhnya mendukung Putin pada awalnya, dan kemudian saya mulai menyuarakan kritik. Saya tak bisa melepaskan pandangan saya, dan ia menginginkan hal lain."

Sementara terkait Trump, Gorbachev menilai bahwa ia hanya punya sedikit pengalaman politik. "Tapi mungkin itu hal yang bagus," kata Gorbachev.

Mikhail Sergeyevich Gorbachev (85) merupakan pemimpin kedelapan sekaligus terakhir Uni Soviet. Ia juga merupakan sekjen Partai Komunis Uni Soviet dari tahun 1985 hingga 1991, saat partai tersebut bubar.

Kebijakan glasnost (keterbukaan) dan perestroika (restrukturisasi) yang diusung Gorbachev serta reorientasi tujuan strategi Soviet berkontribusi terhadap berakhirnya Perang Dingin.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.