Dengan Bantuan Rusia, Suriah Berhasil Rebut Kembali Palmyra dari ISIS

Tiang-tiang bekas bangunan bersejarah di kota Palmyra (Tadmur), Suriah, 12 Juni 2009.

Tiang-tiang bekas bangunan bersejarah di kota Palmyra (Tadmur), Suriah, 12 Juni 2009.

Reuters
Rusia melancarkan 64 serangan udara terhadap posisi militan.

Tentara Suriah berhasil memukul mundur ISIS di Palmyra (Tadmur) dan kembali menguasai kota tersebut sepenuhnya, demikian dilaporkanSputnik, Minggu (11/12).

Tentara Arab Suriah yang didukung Pasukan Udara Rusia, membebaskan Palmyra pada Maret 2016, setelah hampir setahun diduduki ISIS. 
Sebelumnya, pasukan bersenjata Suriah dan kelompok milisi lokal terlibat dalam pertempuran sengit melawan ISIS di pinggiran kota tua tersebut. Beberapa media juga menyebut ISIS kembali memasuki Palmyra setelah sebelumnya disingkirkan oleh tentara Suriah dengan dukungan udara dari Rusia pada awal tahun ini.

“Saya tegaskan sekali lagi bahwa Palmyra berada di bawah kontrol tentara dan militan Suriah. ISIS sempat melakukan serangan secara intensif, tapi mereka kini sudah dipukul mundur,” kata seorang narasumber militer kepada RIA Novosti.

Menurut kantor berita Al Masdar, kelompok teroris ISIS yang memasuki Palmyra dipaksa keluar setelah pesawat jet Angkatan Udara Suriah yang didukung aviasi Rusia membombardir mereka. Tentara Suriah dan militan kembali menguasai semua lereng di Gunung Tar dekat Palmyra. Sejumlah militan ISIS juga dilaporkan telah tersingkir.

Kerahkan 64 Serangan di Malam Hari

Berdasarkan laporan Sputnik, Tentara Suriah menggagalkan seluruh upaya kelompok militan untuk memasuki kota Palmyra pada malam hari dengan bantuan dari pasukan Rusia. Mereka menggunakan bom mobil serta sistem artileri roket dan baja secara aktif, tulis keterangan dari Kementerian Pertahanan Rusia.

Dalam operasi tersebut, pesawat perang Rusia melancarkan 64 serangan udara terhadap posisi kelompok militan dan pasukan cadangan. Sebelas tank tempur dan kendaraan perang infanteri, 31 mobil dan senjata mesin berat, serta lebih dari 300 militan berhasil disingkirkan dari kota tersebut.

ISIS Salahkan ‘Intevensi Rusia’

Laporan media dan media sosial Twitter telah mengonfirmasi bahwa Rusia sengaja mengintervensi serangan gerilya ISIS di kota Palmyra, memaksa kelompok teroris tersebut mundur setelah korban banyak berjatuhan, demikian dikabarkanRussia Insider, Minggu (11/12).

Menurut laporan, pembom dan helikopter tempur Rusia “menyerang ISIS secara membabi buta” saat mereka berupaya memasuki kota tua tersebut.

Sepanjang invasi, ISIS menghancurkan sejumlah objek bersejarah di Palmyra termasuk Necropolis, Gapura Kemenangan, serta Kuil Baal Shamin dan Bel.
Setidaknya 18 helikopter militer Rusia saat ini siaga untuk menjaga Palmyra dari serangan susulan.

Pihak ISIS mengaku sangat tidak senang akan hal ini. “Kami telah memerintahkan badan intelijen kami untuk meninjau penuh intervensi Rusia dalam serangan kami yang gagal di Palmyra,” kata juru bicara ISIS Hassan al-Raqqa. “ISIS tidak akan menoleransi intervensi Rusia dalam urusan internal kami.”

Di luar kegagalan tersebut, al-Raqqa mengatakan ia optimis akan kemampuan organisasinya untuk mendekati masyarakat Suriah.

“Serangan kami di Palmyra mungkin gagal, tapi pesan kami terhadap masyarakat Suriah tetap kuat dan relevan: ‘Kematian bagi Semua Orang, Minyak bagi Turki’. Kami berharap ke depannya kami bisa menyebarkan pesan ini tanpa intervensi Rusia.”

Hingga berita ini diturunkan, Kremlin belum memberi respons terkait pernyataan tersebut.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.