Jembatan Apung Buatan Soviet Menjadi Jalur Penyelamat dalam Operasi Mosul

Tentara Irak mengangkat senjata mereka untuk merayakan keberhasilan merebut sebagian wilayah Mosul, Irak, yang selama ini dikuasai oleh teroris.

Tentara Irak mengangkat senjata mereka untuk merayakan keberhasilan merebut sebagian wilayah Mosul, Irak, yang selama ini dikuasai oleh teroris.

AP
Jembatan ponton Soviet dapat dirakit dengan linggis dan alat sederhana.

Sejumlah jembatan ponton militer buatan Uni Soviet yang dibeli Irak pada masa pemerintahan Saddam Hussein sekitar tahun 1980 menjadi jalur penyelamat dalam serangan anti-ISIS di Mosul, setelah pesawat koalisi menghancurkan jembatan di Sungai Tigris, demikian dilaporkan surat kabar Rusia Izvestia, seperti yang dikutip Sputnik, Senin (5/12).

Pasukan Irak yang didukung koalisi pimpinan AS meluncurkan operasi untuk merebut kembali Mosul dari kelompok teroris ISIS pada 17 Oktober.

Mosul yang merupakan kota terbesar kedua di Irak, serta sejumlah kota-kota di bagian utara dan barat Irak, dikuasai ISIS sejak 2014.

Menurut Izvestia, pada akhir minggu lalu, pasukan zeni berhasil menyelesaikan beberapa jembatan ponton sepanjang Sungai Tigris untuk mengangkut peralatan berat tentara Irak serta unit Divisi Infanteri I AS yang baru saja ditempatkan di Irak untuk mendukung operasi Mosul.

Masih Populer

Pemimpin Redaksi Majalah Arsenal Otechestva (Gudang Senjata Tanah Air) Viktor Murakhovsky menyampaikan kepada Izevstia bahwa sejumlah jembatan ponton Soviet masih populer di seluruh dunia.

Menurut Murakhovsky, hal yang dibutuhkan untuk pemasangan jembatan ini ialah truk tangguh serta beberapa kapal penarik.

“Jembatan-jembatan ponton ini mudah dipasang secara mandiri oleh staf tim insinyur. Berbeda dengan jembatan ponton buatan AS yang membutuhkan mesin derek dan peralatan lainnya, jembatan ponton Soviet dapat dirakit dengan bantuan linggis dan rangkaian alat sederhana,” terang Murakhovsky.

Pencapaian di Irak

Sementara itu, Komandan Badan Perlawanan Terorisme Irak Letjen Abdel Ghani Asadi mengatakan bahwa mereka telah membebaskan lebih dari 600 ribu penduduk di 25 distrik Mosul dari teroris ISIS.

Asadi menambahkan bahwa pasukan operasi khusus Irak telah menewaskan sekitar seribu teroris sejak dimulainya operasi Mosul. Tidak ada jangka waktu yang konkrit dalam pembebasan Mosul dari ISIS, tapi tidak akan memakan waktu lama.

Sebelumnya pada awal November lalu, Kementerian Pertahanan Rusia sempat mengkritik serangan yang dilakukan koalisi AS ke wilayah permukiman warga sipil Irak. Kabarnya, pesawat tempur milik koalisi yang dipimpin AS melakukan serangan ke wilayah permukiman warga sipil Irak saat menggelar operasi melawan kelompok teroris ISIS.

Menurut keterangan pihak kementerian, pesawat koalisi AS menyerang beberapa kota padat penduduk di dekat Mosul pada Senin (31/10) lalu.

Pada Rabu (26/10), pesawat tempur AS juga menyerang wilayah pemukiman di pusat kota Hamam al-Elil, 20 kilometer dari Mosul. Selain itu, sebuah bangunan sekolah dan beberapa rumah rusak akibat serangan udara AS di Mosul pada Senin (24/10).

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.