Kapal NATO Buntuti Perjalan Rombongan AL Rusia Menuju Laut Tengah

Kapal induk Rusia Laksamana Kuznetsov dengan pesawat tempur Sukhoi Su-33.

Kapal induk Rusia Laksamana Kuznetsov dengan pesawat tempur Sukhoi Su-33.

Lev Fedoseyev/TASS
Namun, aksi tersebut tak melanggar peraturan hukum laut internasional.

Lebih dari delapan kapal NATO mengiringi rombongan Angkatan Laut Rusia dalam perjalanannya menuju Laut Tengah, demikian dilaporkan TASS, Senin (5/12).

Meski demikian, proses tersebut tidak melanggar hukum laut internasional, terang Kepala Komandan Angkatan Laut Rusia Laksamana Vladimir Korolyov.

"Ini pertama kalinya kami menggunakan kapal angkatan laut dalam kondisi tempur sejak dibangunnya kapal induk kelas berat. Tentu hal ini menarik perhatian, terutama bagi negara-negara NATO. Lebih dari delapan kapal mengiringi kami saat kami sampai wilayah Inggris. Tapi tidak ada pelanggaran hukum laut internasional," kata Korolyov kepada stasiun TV Rossiya-24.

Satuan tugas Armada Utara pergi untuk misi di bagian timur Samudra Atlantik dan Laut Tengah pada 15 Oktober. Kapal Laksamana Kuznetsov merupakan salah satu kapal dalam armada yang juga berisi kapal kapal penjelajah rudal berat Pyotr Velikiy, dua kapal penghancur kelas Udaloy Severomorsk, kapal Wakil Laksamana Kulakov, serta kapal-kapal pendukung lain.

Tak seperti kebanyakan kapal induk, Laksamana Kuznetsov juga merupakan kapal jejalah yang dilengkapi oleh misil Kinzhal. Misil tersebut dapat digunakan untuk melindungi diri dari serangan udara dan kapal tempur musuh.

Selain itu, pasukan aviasi kapal Laksamana Kuznetsov juga mendapat tambahan bantuan pesawat dari pangkalan militer Hmeimim.

Pada 15 November lalu, Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu melaporkan kepada Presiden Vladimir Putin bahwa serangan melawan teroris telah dilakukan di provinsi Idlib dan Homs, Suriah.

Insiden di Laut Tengah

Sebelumnya, kapal selam Belanda sempat mencoba mendekati dan mengintai pasukan AL Rusia di Laut Tengah, dan kapal anti-kapal selam Rusia kemudian mendesak kapal Belanda untuk meninggalkan wilayah tersebut.

Kapal penghancur Rusia mendeteksi kapal selam Belanda dari jarak 20 kilometer menggunakan sistem sonar dan informasi dari helikopter antikapal selam Ka-27.

Moskow mengkritik aksi 'aneh' Belanda dan mengecam 'upaya ceroboh untuk melakukan manuver dari jarak dekat terhadap kapal Rusia tersebut karena dapat memicu kecelakaan navigasi yang serius'.

Pihak Rusia menyebutkan bahwa ini bukan pertama kalinya kapal Rusia dibayang-bayangi oleh militer NATO dalam melakukan misi. "Kapal Armada Utara secara rutin menemukan kapal selam NATO di sepanjang perjalanan saat hendak melakukan misi," terang Kemenhan Rusia. Pada awal November lalu, kapal selam kelas Virginia mencoba untuk 'melacak' kapal militer Rusia. Padahal, menurut Kemenhan Rusia, kapal raksasa dari kelas tersebut tak dirancang untuk menggelar operasi pengintaian.

Kemenhan juga menyebutkan bahwa semua upaya yang dilakukan negara lain untuk mendekati kapal Rusia dipantau sepanjang waktu, dan hal tersebut merupakan praktik maritim yang wajar. Pasukan antikapal selam Rusia juga telah melakukan latihan militer terkait penanganan pertahanan anti-kapal selam, tulis RT.

Moskow menegaskan bahwa kapal-kapal itu diberangkatkan untuk memastikan kehadiran maritim dalam wilayah yang signifikan secara operasional di samudra dunia, termasuk untuk mengamankan navigasi maritim.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.