Telepon Putin, Erdoğan Klarifikasi Pernyataan Mengenai Penggulingan Assad

Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) dan Presiden Turki Tayyip Erdoğan menghadiri sidang Kongres Energi Dunia di Istanbul, Turki.

Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) dan Presiden Turki Tayyip Erdoğan menghadiri sidang Kongres Energi Dunia di Istanbul, Turki.

Reuters
Presiden Turki menyebutkan target satu-satunya hanyalah teroris.

Operasi militer Turki di Suriah tak menargetkan negara atau individu tertentu, melainkan hanya ditujukan pada kelompok teroris, demikian disampaikan Presiden Turki President Recep Tayyip Erdoğan dalam percakapannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin melalui telepon, mengklarifikasi pernyataan sebelumnya yang menyebutkan bahwa kehadiran Turki di Suriah hendak ‘mengakhiri rezim Assad yang kejam’.

“Tujuan Operasi Perisai Efrat di Suriah utara bukan untuk menyerang negara atau individu tertentu, melainkan hanya menargetkan organisasi teroris," kata Erdoğan, Kamis (1/12), seperti yang dilaporkan RT, mengutip harian Hurryiet.

"Tak seorang pun perlu meragukan isu yang telah kami ucapkan berkali-kali, dan tak seorang pun perlu menginterpretasikannya dengan cara lain atau mencoba membelokkan isu itu," tambah Erdoğan.

Komentar ini berlawanan dengan pernyataan yang dibuat Erdoğan pada Selasa (29/11) lalu, saat ia menyebut bahwa operasi Turki di Suriah yang diluncurkan sejak akhir Agustus ditujukan untuk ‘mengakhiri kekuasaan tirani Assad yang terus meneror’.

Pernyataan tersebut mengejutkan Rusia yang segera menuntut klarifikasi atas pernyataan itu.

Menurut Ajudan Kremlin Yury Ushakov, Putin dan Erdoğan kemudian mendiskusikan isu tersebut melalui telepon kemarin (30/11).

Hari ini (1/12), Menteri Luar Negeri Turki Mevlüt Çavuşoğlu kembali menegaskan bahwa operasi Ankara di Suriah ditujukan untuk membasmi ISIS dan kelompok teroris lainnya. Hal itu disampaikan dalam konferensi pers gabungan bersama Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di kota Alanya, Turki.

"Kami akan melanjutkan upaya penerapan kebijakan yang harmonis dan sesuai dengan posisi Rusia, yakin untuk mencari dan menemukan solusi politik atas konflik yang terjadi si Suriah serta menyediakan bantuan kemanusiaan," tambah Çavuşoğlu, seperti dikutip Interfax.

Ia menyebutkan bahwa kebijakan Turki terhadap Suriah 'tetap tak berubah'.

"Kami bekerja sama dengan negara-negara lain, tapi kami rasa kooperasi dengan Rusia yang erat akan memberi keuntungan yang lebih besar," tutur Çavuşoğlu.

Tanpa solusi politik di Suriah, perang melawan ISIS tak akan efektif, terang sang menteri Turki pascapertemuan dengan Lavrov.

Sementara, Lavrov menegaskan bahwa ia berharap kerja sama Rusia-Turki terkait Suriah akan memberi kontribusi nyata bagi penerapan keputusan oleh komunitas internasional.

Ankara telah mengerahkan pasukan darat dan udaranya ke bagian utara Suriah, yang berbatasan dengan Turki. Ankara menyebut tujuan mereka di Suriah adalah untuk merebut wilayah yang diduduki ISIS, serta melawan kelompok bersenjata Kurdi di utara Suriah yang diklaim telah membantu pemberontakan kelompok Kurdi di tanah Turki.

Sementara itu, media The Financial Times melaporkan bahwa Turki saat ini tengah berperan sebagai mediator antara pihak Rusia dengan oposisi Suriah untuk membicarakan rencana penyelesaian konflik di Aleppo. Kepala Dewan Aleppo Ali Sheikh Omar menyebut sejumlah politisi di distrik yang dikuasai kelompok pemberontak setuju untuk membentuk tim negosiasi langsung dengan Moskow. Namun, salah satu perwakilan pihak oposisi menolak bernegosiasi, sementara beberapa kelompok pemberontak menolak untuk menanggapi dialog rencana negosiasi tersebut.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.