Pertemuan Rusia-Oposisi Suriah Dimediasi Turki, Tak Libatkan AS Sama Sekali

Washington bahkan tak tahu apa yang sedang terjadi di Ankara

Para pemimpin kelompok oposisi Suriah bertemu dengan pihak Rusia untuk membicarakan rencana penyelesaian konflik di Aleppo dengan dimediasi oleh pihak Turki dan tidak melibatkan AS sama sekali, demikian disampaikan seorang narasumber dari pihak oposisi pada surat kabar The Financial Times, seperti dikutip Sputnik, Kamis (1/12).

“Pihak Rusia dan Turki saat ini sedang menggelar dialog tanpa mengikutsertakan AS. Washington sama sekali tidak terlibat dalam perbincangan ini. Mereka bahkan tak tahu apa yang sedang terjadi di Ankara,” kata narasumber dari pihak oposisi.

Kepala Dewan Aleppo Ali Sheikh Omar menyebut sejumlah politisi di distrik yang dikuasai kelompok pemberontak setuju untuk membentuk tim negosiasi langsung dengan Moskow. Namun, salah satu perwakilan pihak oposisi menolak bernegosiasi, sementara beberapa kelompok pemberontak menolak untuk menanggapi dialog rencana negosiasi tersebut.

Rusia sendiri tidak pernah menghindari kontak dengan kelompok oposisi di Suriah, bahkan dalam pertemuan Lausanne bulan lalu Rusia justru mengusulkan untuk melibatkan kelompok oposisi bersenjata Suriah dalam dialog.

“Kami tidak pernah menghindari kontak baik dengan kelompok oposisi politik atau pun komandan lapangan, begitu pula Turki yang tetap melakukan kontak dengan kedua pihak. Kami bertukar informasi terkait situasi seperti apa yang berlangsung di Suriah, mendorong mereka untuk menjadi bagian dari solusi umum seperti yang telah dibahas dalam diskusi Kelompok Internasional Pendukung Suriah dan Dewan Keamanan PBB,” terang Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.

Merebut Aleppo

Pasukan pemerintah yang didukung para milisi Syiah berhasil merebut sejumlah area kunci dari kelompok oposisi di sebelah timur kota Aleppo. Pasukan Assad membelah dua kelompok yang melawan mereka sehingga membuat pihak oposisi semakin sulit melakukan perlawanan.

Kesuksesan tentara pemerintah di Aleppo timur, yang bermula pada pertengahan November, meningkat secara drastis pada Sabtu lalu. Pasukan Assad berhasil merebut distrik-distrik besar (Masakin-Khanano and Jabal Badro) dari musuh.

Kini lebih dari 80 ribu warga Suriah telah dibebaskan, 10 ribu di antaranya adalah anak-anak. Banyak dari mereka baru menerima bantuan berupa air, makanan, perawatan kesehatan dari pusat kemanusiaan Rusia untuk pertama kalinya.

Para pakar militer yakin bahwa jika kesuksesan pasukan pemerintah terus berlanjut dengan kecepatan seperti saat ini, mereka bisa menguasai Aleppo sepenuhnya sebelum akhir tahun. Para teroris di Aleppo timur terkepung dan mereka akan sangat kesulitan untuk membangun garis pertahanan baru setelah kehilangan sejumlah distrik kunci. Kurangnya jumlah perangkat berat dan posisi penembakan yang telah disiapkan jelas merugikan mereka. Selain itu, kekuatan para oposisi telah habis dan tak ada bala bantuan.

Aleppo, yang sebelum perang dianggap sebagai ibu kota ekonomi Suriah, memiliki signifikansi simbolis. Ia merupakan kota pertama yang dikuasai oleh pihak oposisi secara parsial pada 2012. Kini, jika serangan berhasil, Bashar Assad akan memperkuat posisinya dalam dialog perdamaian karena ia akan memiliki kontrol atas lima kota besar di negara tersebut: Damaskus, Aleppo, Homs, Hama, dan Latakia.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.