Iran: Rusia Boleh Gunakan Pangkalan Udara Hamadan Jika Dibutuhkan

Menteri Pertahanan Iran Hossein Dehghan (kiri) menyampaikan bahwa pemerintah Iran bisa mengizinkan Rusia menggunakan pangkalan udara di Hamadan jika hal tersebut memang dibutuhkan.

Menteri Pertahanan Iran Hossein Dehghan (kiri) menyampaikan bahwa pemerintah Iran bisa mengizinkan Rusia menggunakan pangkalan udara di Hamadan jika hal tersebut memang dibutuhkan.

Mikhail Japaridze / TASS
Rusia bisa menggunakan Pangkalan Udara Hamadan Iran jika kapal induk Laksamana Kuznetsov yang digunakan untuk keperluan misi antiteroris di Suriah dipindahkan dari perbatasan Suriah untuk menjalankan misi baru.

Teheran mengaku bersedia mengizinkan Rusia menggunakan pangkalan udara di Hamadan, Iran, untuk kepentingan operasi udara Moskow melawan kelompok teroris di Suriah jika pihak Rusia memang membutuhkan bantuan tersebut, demikian disampaikan Menteri Pertahanan Iran Hossein Dehghan, Sabtu (26/11).

Dehghan menyampaikan bahwa pemerintah Iran bisa mengizinkan Rusia menggunakan pangkalan udara di Hamadan jika hal tersebut memang dibutuhkan. "Jika situasi dan kondisi di Suriah membutuhkan dukungan, kami akan melakukannya," kata Dehghan, seperti dikutip oleh kantor berita Tamsin.

Sementara, Ketua Komite Pertahanan Majelis Tinggi Parlemen Rusia Viktor Ozerov menjelaskan bahwa Rusia diperbolehkan menggunakan pangkalan udara Iran jika kapal induk Laksamana Kuznetsov, yang digunakan untuk melancarkan serangan antiteror di Suriah, berangkat dari perbatasan Rusia untuk melakukan misi lain.

"Rusia bisa saja menggunakan pangkalan udara di Hamadan jika Laksamana Kuznetsov melakukan operasi lain dan tidak dapat melakukan serangan udara melawan kelompok teroris di Suriah," kata Ozerov RIA Novosti.

Prinsip ‘Bermalam dan Pergi’

Menanggapi pernyataan Iran ini, analis politik dan militer Rusia, yang juga seorang dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di Sekolah Tinggi Ekonomi Rusia Alexander Perendzhiev mengatakan kepada RIA Novosti bahwa Rusia saat ini dapat menggunakan pangkalan tersebut sesuai prinsip hotel: hanya bermalam lalu pergi. Meski demikian, prospek jangka panjangnya ialah menyewa pangkalan tersebut untuk beberapa tahun.

"Iran siap menyediakan pangkalan udaranya untuk Rusia sebagai fasilitas tamu, bukan dalam basis tetap. Seperti menginap di hotel: datang, bermalam, pergi," terang Perendzhiev, seperti yang dikutip Sputnik. Ia juga menyatakan bahwa Teheran siap bertemu pasukan Rusia dan memproyeksikan kebutuhan untuk menggunakan pangkalan sementara agar dapat melakukan perlawanan gabungan yang lebih baik dalam memerangi kelompok teroris internasional di Suriah.

"Pernyataannya mengatakan bahwa militer Iran dan pemimpin politik siap mengubah undang-undang negaranya (yang saat ini melarang penempatan pangkalan militer asing dan kontingen militer di wilayahnya) agar Rusia dapat menyewa fasilitas tersebut," terang Perendzhiev. "Saya rasa, dimulai dengan lima tahun," tambahnya.

Iran mengizinkan pasukan penyerang Rusia untuk beroperasi dari pangkalan di Provinsi Hamadan pada pertengahan Agustus. Seminggu kemudian, pesawat jet Rusia kembali ke Rusia, setelah menyelesaikan misi antiteror mereka, yang menargetkan kelompok teroris di Suriah. Meski demikian, Teheran kemudian mengumumkan bahwa mereka menunda Rusia menggunakan fasilitas tersebut. Tidak ada pasukan asing yang pernah menggunakan pangkalan di Iran sejak Perang Dunia II. Rusia menjadi negara satu-satunya yang akan mendapat hak tersebut untuk pertama kalinya setelah lebih dari 70 tahun.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.