Ribuan Warga Rusia Bergabung dengan ISIS, Kekhawatiran Meningkat

Ancaman teroris global telah membawa dimensi baru karena munculnya dan aktivitas ISIS.

Ancaman teroris global telah membawa dimensi baru karena munculnya dan aktivitas ISIS.

Reuters
Mereka bergabung dengan militan kriminal di Kaukasus Utara saat kembali.

Lebih dari 3.200 warga negara Rusia telah meninggalkan negaranya untuk bergabung dengan barisan kelompok teroris ISIS di Suriah dan Irak sejak awal konflik terjadi, demikian disampaikan Direktur Departemen Tantangan dan Ancaman Baru Kementerian Luar Negeri Rusia, dikutip dari Sputnik, Senin (21/11).

Menurut sang pejabat, sejumlah orang yang memiliki pengalaman tempur dan memiliki hubungan dengan organisasi teroris internasional ini bergabung dengan kelompok militan kriminal di Kaukasus Utara saat mereka kembali.

“Ancaman teroris global telah membawa dimensi baru karena munculnya dan aktivitas ISIS. Suriah dan Irak ada dalam aktivitas kelompok tersebut. Menurut estimasi kami, ancaman (untuk Rusia) berasal dari kelompok militan yang berasal dari Rusia, yang telah dilatih di Irak dan Suriah. Menurut data dari badan penegak hukum dan layanan keamanan, lebih dari 3.200 warga negara Rusia telah pergi ke daerah konflik,” kata Ilya Rogachev kepada RIA Novosti dalam sebuah wawancara.

Rogachev menambahkan bahwa Moskow juga mengkhawatirkan “penyebarluasan ideologi di area informasi” yang dilakukan kelompok militan ISIS, yang dilarang di banyak negara, termasuk Rusia.

ISIS Cabang Kaukasus

Pada Kamis (17/11) lalu, iima orang anggota kelompok yang diketahui dekat dengan ISIS ditahan di Republik Ingushetia, Kaukasus utara, karena dicurigai tengah merencanakan serangan teroris.

Kelompok ini didirikan oleh seorang pengikut ISIS yang telah tewas pada awal Oktober lalu, kata FSB dalam sebuah pernyataan menyusul aksi penangkapan pada Kamis lalu.

Selain melakukan penangkapan, FSB juga menyita lima senjata api, dua bahan peledak buatan rumahan yang masing-masing memiliki daya ledak setara dengan 10 kilogram TNT, serta komponen-komponen senapan runduk.

Sebelumnya, sekelompok teroris Rusia yang berjanji setia kepada ISIS sempat menyerukan jutaan warga muslim Rusia untuk mengangkat senjata dan melakukan serangan terhadap penduduk dan pemerintah Rusia. Demikian hal tersebut dilaporkan RT, merujuk pada rekaman video yang beberapa bulan lalu beredar di dunia maya.

Dalam video yang dipublikasikan pada Maret lalu tersebut kelompok teroris ISIS cabang Kaukasus menyebut diri mereka sebagai "pejuang" dari kelompok global pimpinan Abu Bakr al-Baghdadi. Media Rusia Gazeta.ru melaporkan, di sepanjang video tersebut, para teroris berbicara dalam bahasa Rusia. Video penuh ancaman itu kemudian dihapus dari YouTube.

Namun, sebuah video versi singkat berdurasi kurang dari dua menit, yang hanya memuat pesan ancaman, hingga kini masih ada di situs web Jerusalem Post.

Versi lengkap video tersebut dilaporkan dimulai dengan cuplikan ledakan bom mobil yang belum lama ini diledakkan oleh teroris di Dagestan, sebuah republik di Rusia selatan.

Dalam rekaman itu pula, para teroris menjelaskan berbagai cara agar warga muslim Rusia bangkit melawan pemerintah dan melakukan serangan terhadap warga sipil. Seruan tersebut direkam di daerah berhutan dengan bendera ISIS tampak di belakang para militan tersebut.

Kelompok yang menyatakan kesetiaannya kepada Abu Bakr al-Baghdadi pada bulan Juni tahun lalu ini mengeluhkan bahwa mereka tidak memiliki tempat yang bisa menjalankan syariat atau hukum Islam di Rusia. Karena alasan inilah, mereka terpanggil untuk mengangkat senjata. Abu Yasser, salah satu orang yang berbicara dalam video, juga berbicara tentang niat kelompok tersebut untuk memperluas wilayahnya di Rusia.

Abu Yasser juga mengatakan, sebagaimana yang dikutip Daily Mail, jika muslim Rusia tak mampu pergi dan bergabung dengan kelompok teroris tersebut, mereka bisa 'bertobat' atau menebus dosa mereka dengan menyerang orang-orang kafir dengan tali dan pisau.

Selain ancaman, rekaman tersebut juga menunjukkan dugaan seorang agen khusus Rusia yang dieksekusi. Namun demikian, belum ada konfirmasi resmi dari Moskow mengenai dugaan tersebut.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.