Mencoba Dekati Kapal Induk Rusia di Laut Tengah, AL Belanda Diusir

Kapal induk Rusia Laksamana Kuznetsov melewati Selat Inggris pada 21 Oktober 2016 di dekat Dover, Inggris. Armada Angkatan Laut Rusia tengah menuju ke Mediterania timur untuk mendukung kampanye militer Rusia di Suriah.

Kapal induk Rusia Laksamana Kuznetsov melewati Selat Inggris pada 21 Oktober 2016 di dekat Dover, Inggris. Armada Angkatan Laut Rusia tengah menuju ke Mediterania timur untuk mendukung kampanye militer Rusia di Suriah.

Getty Images
Manuver jarak dekat tersebut dapat memicu kecelakaan navigasi yang serius.

Kapal selam Belanda mencoba mendekati rombongan kapal induk Rusia di Laut Tengah dan mengintai rombongan tersebut, tapi pihak Rusia segera mendesak kapal Belanda untuk meninggalkan wilayah rombongan kapal induk tersebut, demikian disampaikan Kementerian Pertahanan Rusia, Rabu (9/11).

"Pada Rabu (9/11) pukul 06.50 waktu Moskow, kapal penghancur antikapal selam Rusia Severomorsk dan Wakil Laksamana Kulakov mendeteksi kapal selam diesel-elektrik milik AL Belanda (diduga kelas Walrus), yang mencoba mendekati dan memantau kelompok kapal induk Armada Utara," terang juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia Igor Konashenkov seperti dikutip Sputnik.

Kapal penghancur Rusia mendeteksi kapal selam Belanda dari jarak 20 kilometer menggunakan sistem sonar dan informasi dari helikopter antikapal selam Ka-27. "Meski kapal selam tersebut melakukan manuver, kami berhasil menciptakan kontak sonar yang stabil dengannya. Kapal kami telah melacak kapal tersebut selama satu jam kemudian mendesaknya untuk meninggalkan area keberadaan kapal induk," lanjut Konashenkov.

Moskow mengkritik aksi 'aneh' Belanda dan mengecam 'upaya ceroboh untuk melakukan manuver dari jarak dekat terhadap kapal Rusia tersebut karena dapat memicu kecelakaan navigasi yang serius'.

Ketua Gerakan Pendukung Armada Seluruh Rusia Mikhail Nenashev menyebutkan aksi kapal selam Belanda ini merupakan upaya untuk memprovokasi Angakatan Laut Rusia untuk memulai manuver yang tak aman di Laut Tengah.

“Tentara Belanda memicu situasi navigasi yang berbahaya, menghalangi kapal kami untuk melaksanakan tugas mereka melawan teroris,” kata Nenashev. “Mengikuti komando atasan mereka, mereka dapat mencari alasan dan mengatakan setelah itu bahwa manuver Rusia berbahaya.”

Nenashev berpandangan selama ini tentara dan pilot Angkatan Laut Rusia berperang melawan kelompok teroris, sementara NATO terus mencoba berperang melawan Rusia.

Saat dikontak oleh AFP, Kementerian Pertahanan Belanda tak mengomentari operasi angkatan lautnya.

Pihak Rusia menyebutkan bahwa ini bukan pertama kalinya kapal Rusia dibayang-bayangi oleh militer NATO dalam melakukan misi. "Kapal Armada Utara secara rutin menemukan kapal selam NATO di sepanjang perjalanan saat hendak melakukan misi," terang Kemenhan Rusia. Pada awal November lalu, kapal selam kelas Virginia mencoba untuk 'melacak' kapal militer Rusia. Padahal, menurut Kemenhan Rusia, kapal raksasa dari kelas tersebut tak dirancang untuk menggelar operasi pengintaian.

Kemenhan juga menyebutkan bahwa semua upaya yang dilakukan negara lain untuk mendekati kapal Rusia dipantau sepanjang waktu, dan hal tersebut merupakan praktik maritim yang wajar. Pasukan antikapal selam Rusia juga telah melakukan latihan militer terkait penanganan pertahanan anti-kapal selam, tulis RT.

Kapal tempur Rusia, termasuk kapal induk Laksamana Kuznetsov, kapal tempur Pyotr Veliky, serta kapal penghancur antikapal selam Severomorsk dan Wakil Laksamana Kulakov, dikirim ke Laut Mediterania sejak 15 Oktober lalu untuk menjalankan misi di Suriah.

Keberangkatan tersebut mendapat sorotan sejumlah media internasional, karena negara-negara NATO, termasuk Inggris, mengirim kapal tempur mereka untuk 'menandai' kapal Rusia.

Sementara, Moskow menegaskan bahwa kapal-kapal itu diberangkatkan untuk memastikan kehadiran maritim dalam wilayah yang signifikan secara operasional di samudra dunia, termasuk untuk mengamankan navigasi maritim.

Hak cipta milik Rossiyskaya Gazeta.